Bagi yang memiliki perut berspesialisasi kantung nasi, tentunya 1.000% setuju dengan judul diatas. Ungkapan berikut pasti sering terdengar, “namanya makan ya harus nasi”, “kalo belum nasi belum makan namanya”, “makan kok roti, kayak bule”, “kalau bukan nasi, kagak nendang!” dan lain-lain.
Namun bagi perut yang tidak terspesialisasi, bertipe non-nasi, seperti perut saya, maka namanya kenyang tidak mutlak harus dipenuhi nasi. Apalagi sampai nasi harus dengan ubo rampenya, perlengkapan khusus, harus ada sayur ini itu, harus ada lalapan ini itu, harus ada sambal ini itu, harus ada kerupuk, harus ada tempe, harus ada ikan asin dan lain-lain, weh lhah, kok jadi rumit amat ya?.
Sebenarnya yang perlu itu semua, perut atau mulut, atau lebih tepatnya lidah? Karena ternyata setelah masuk kerongkongan rasanya sama saja.
Semasa kuliah, pernah 1 minggu penuh perut saya tidak terisi nasi sama sekali. Benar, seminggu hanya disumpal dengan roti dan roti. Karena masih ragu dengan ke-halal-an ubo rampe nasi yang dijual, jadi roti yang tidak mengandung bahan yang meragukan adalah alternatif paling aman. Mulai dari roti tawar dicocol selai, atau kadang dioles mentega atau memang sudah dari sononya manis dengan berbagai rasa.
Tapi selama itu juga tetap hidup tuh, bahkan alhamdulillah sehat sampai sekarang, tidur tetap nyenyak, nggak ada cerita malam perut klithikan, keroncongan, karena belum ketemu nasi, kurang penuh. Bahkan selama itu juga 3 sarat hidup nyaman, makan enak-tidur enak-buang air enak, semua terpenuhi.
Alhamdulillah juga masa kecil saya diperkenalkan, kalau tidak mau disebut dibiasakan, dengan makanan bermacam-macam. Mulai dari makanan orang kaya (waktu itu) berupa roti dan susu, makanan orang menengah, berupa nasi dan ubo rampenya, sampai makanan orang bawah, berupa thiwul dan semua derivative-nya, sehingga seumuran saya saat ini (weleh, sudah kepala 4!), enak saja menyantap segala jenis makanan. Maka sempurnalah kriteria saya sebagai makhluk omnivora, pemakan segala. (saya ingat waktu SMP, contoh makhluk omnivora selalu saja ayam, kenapa bukan manusia ya?).
Bahkan ketika masih SD saya sering ikut nimbrung bapak saya yang sarapan intip goreng, kerak nasi yang dikeringkan kemudian digoreng. Intip goreng plain yang dihidangkan dalam toples ini selalu didampingi teh manis. Jadi pagi-pagi sudah kriuk-kriuk, sambil menyruput teh manis cenceman. Sampai sekarang setiap saya menatap wajah bapak saya yang sudah mulai kelihatan mengunyah sesuatu karena beberapa giginya sudah mulai tanggal, padahal mulutnya kosong, saya selalu terbayang ekspresi wajah beliau ketika menyantap dengan nikmat intip goreng di pagi hari di atas lincak, dipan kecil di teras rumah. Sebuah ekspresi kenikmatan yang masih terus coba saya cari hingga saat ini, ketika menyantap makanan rakyat yang satu ini, yang masih selalu dihidangkan istri di rumah dengan penuh kebanggan. Seperti layakny apara istri yang bangga menyenangkan hati suaminya dengan makanan klangenannya.
Bahkan ketika masih kecil, thiwul adalah makanan wajib (karena memang tidak ada yang lain) keluarga saya. (baca tulisan saya Tahu Kupat Pojok Pasar). Sehingga perut ini sudah sangat terbiasa dengan ganjalan bukan nasi.
Tapi pembiasaan waktu kecil seperti saya ternyata juga tidak selalu efektif membuahkan hasil berupa perut non-nasi. Karena beberapa tetangga yang senasib dengan saya tetap saja sampai saat ini berperut nasi, malah lebih beragam karena katanya perutnya menuntut harus ada teman sambel korek yang hanya berbahan baku cabe dan garam saja. Ah… betapa sederhana namun juga rumitnya tuntutan perut kalian, teman-teman ndesoku.
Ketika membaca sebuah postingan seorang teman tentang betapa masyarakat kita, Indonesia, tergolong pengkonsumsi beras terbesar di dunia, 139kg beras per kapita per tahun (http://www.endonesia.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&cid=11&artid=810), terbelalak mata saya. Padahal ketika saya masih kecil di benak saya tertanam pemahaman bahwa rakyat Jogja, khususnya Gunung Kidul makanan pokoknya singkong/thiwul, Wonogiri (Jawa Tengah) terkenal dengan makanan pokok Jagung, Papua dengan makanan pokok Sagu, dan banyak wilayah di tanah air kita memiliki makanan pokok yang beragam, lha kok sekarang semua berperut nasi?. Bandingkan dengan tetangga kita Malaysia yang hanya 80kg/kapita/tahun, malah Jepang hanya 60kg.
Saya kok jadi terbayang bagaimana bayi-bayi mereka di pedalaman Papua sana disuapi bubur nasi rasa ayam dan sayuran dari produsen makanan bayi ternama, sementara para orang tua pada duduk di bawah pohon selepas menyantap nasi dengan ubo rampe yang memenuhi 2 atau 3 sehat (namun tidak sampai 4 bahkan tidak pernah bisa menjadi 5 sempurna), sedang mengelus-elus perut mereka yang buncit namun masih lapar karena belum diisi makanan pokok asli daerah mereka yang selalu dikonsumsi secara turun temurun sejak nenek moyang mereka. Makan ya harus sagu! Rintih hati mereka.
Sementara kalau kita melihat atau bahkan berkunjung ke daerah Karawang Jawa Barat yang selama ini disebut-sebut sebagai lumbung padi nasional, sudah semakin sempit lahan pertanian yang dipertahankan. Dimana-mana bangunan pabrik dan perumahan kering kerontang menutupi setiap jengkal lahan mantan pertanian. Bahkan beberapa waktu yang lalu Karawang, yang menurut teori tidak akan terendam banjir karena masih banyaknya lahan terbuka sebagai penyerap air hujan, ternyata malah kebanjiran. Tidak tanggung-tanggung, dibeberapa wilayah malah sampai seminggu lebih penghuni rumah tidak bisa beraktifitas di luar rumah karena rumahnya tergenang.
Ketika di Vietnam untuk tugas beberapa hari yang lalu, saya selalu menemukan pemandangan yang menarik di pinggir jalan yang saya lalui setiap pagi selama 10 hari. Beberapa ibu mengayuh sepeda yang mengangkut bronjong di boncengan belakang sepeda mereka, yang memuat perancis (tidak tahu apa nama sebenarnya), roti panjang seperti stick kasti. Rasa penasaran saya ungkapkan ke teman yang asli Vietnam. “masyarakat Vietnam terbiasa makan roti seperti itu, dipanggang dengan mentega, dimakan dengan bubur kacang”. Ah… rupanya negara gudang beras itu punya alternatif lain untuk mengganjal perut mereka di pagi hari. Dan ketika malam harinya saya diajak makan malam oleh teman-teman se kantor disana, entah kenapa malam itu roti itu nongol sebagai menu standar disamping hidangan khas daging babi dan bir.
Kegemaran saya kalau sedang menginap di hotel adalah tidak makan nasi. Batin saya, kalau cuman nasi di rumah juga banyak. Maka saya usahakan makan yang aneh-aneh. Soal rasa? Itu nomer 18!
Yang penting harus beda dari biasanya.
Ketika kemarin sore pulang dari acara pelatihan, istri ngunandiko tentang mahalnya harga beras. Beras uenak ternyata sudah 12 ribu rupiah per kilo, sementara teman istri pernah menawarkan beras organik (yang dari pembibitan hingga panen tidak menggunakan bahan kimia sedikit pun) seharga 10 ribu rupiah per kilo. Duar! Negara agraris bermenu pokok nasi, dan pernah swasembada beras, lha kok untuk mengganjal perut bertipe nasi harus keluar uang segitu mahalnya? Saya jadi ingat sewaktu SMP dan SMA, saat itu beras sangat berlimpah, sampai-sampai setiap kembali ke pondokan saya dibekali setengah karung beras jatah PNS bapak saya yang ketika itu termasuk beras KW2 yang tidak habis di makan di rumah, yang harus saya panggul ketika pindah dari satu bisa ke bisa berikutnya.
Maka ketika menunggu mobil yang menjemput kami, istri masuk sebuah mini market untuk membeli bekal sekolah anak besoknya, sekalian membeli roti tawar untuk merealisasikan instrukti saya mengganti menu sarapan dari nasi menjadi roti mulai besok pagi. Lebih hemat.
Pagi tadi karena terburu-buru berangkat kerja, saya tidak sempat menyantap sarapan dengan tenang duduk di meja makan. Si bontot yang sudah selesai segala tetek bengek urusan sekolahan dan tinggal menunggu pengumuman kelulusan untuk segera meninggalkan tarangan dan kedua orang tuanya dan memasuki babak baru kehidupan di boarding school, membuatkan sarapan roti tawar untuk saya.
Ketika sampai di parkiran tempat kerja, bungkusan saya buka, lho! Kok cuman setangkep? Kurang ngganjal nih! Padahal saya sudah menyiapkan space 2 tangkep di rongga lambung saya!
Dan benar, jam 11 sudah kelimpungan karena persediaan karbohidrat kurang.
Tapi saya tetap bertekad mensuskseskan program keluarga, sarapan tanpa nasi, untuk mengurangi konsumsi beras nasional!
Kapan ya negara kita akan berswasembada beras lagi?
Wassalam
Cikarang, 17 Mei 2010