Suasana Mengalahkan Segalanya
Catatan kecil penyaluran bantuan untuk korban letusan Gunung Merapi Jawa Tengah 2010
Penggalangan dana
Berawal dari keinginan saya dan keluarga untuk mengajak teman-teman mengumpulkan apapun yang bisa dikirim ke Jogja, untuk membantu saudara-saudara kita yang sedang terkena musibah bencana letusan gunung Merapi.
Mengapa kami pilih Jogja, sederhana saja, karena disana kami punya teman yang juga menjadi relawan, bukan karena mengecilkan arti bencana gempa dan tsunawi di kepulauan Mentawai.
Namun rencana itu menggelembung, ketika menerima respon dari para pengurus masjid dan RT/RW di mana saya tinggal, juga pengurus serikat pekerja dimana saya bekerja, menjadikan kami berpikir inilah saatnya untuk bertindak dalam skala besar.
Yang tadinya hanya ingin mengirimkan sekedarnya melalui jasa pengiriman, akhirnya ada teman yang menyanggupi meminjamkan kendaraan truk tertutup (mobil box) ukuran besar, serta seorang kakek menyanggupi menyediakan sebuah kendaraan operasional untuk mengangkut relawan yang bersedia berangkat sambil mengawal barang kiriman.
Siapa yang jadi relawan?
Hingga detik terakhir sebelum berangkat, ternyata barang yang harus dikirim sampai memenuhi truk yang disediakan. Jauh lebih banyak dari bayangan semula.
Berikutnya adalah siapa yang harus mengawal pengiriman?
Saya yang tadinya hanya berencana mengirim bantuan melalui jasa kurir, harus berpikir keras mencari siapa yang akan berangkat.
Jum’at 29 Oktober jam 15.00, barulah saya mengambil keputusan, saya harus berangkat. Karena harus ada yang mengawal dan menyerahkan bantuan kepada yang berhak.
Dengan keputusan ini, saya harus membatalkan acara kantor dan undangan walimatus safar (syukuran menjelang keberangkatan haji) kakak ipar, yang kedua-duanya dilaksanakan pada hari Sabtu, 30 Oktober 2010.
Sore itu juga kami kontak relawan lain, yaitu staff lembaga saya untuk ikut, khususnya membantu recovery mental anak-anak korban bencana, melalui dongeng dan permainan, karena memang itu keahlain mereka.
Saya juga langsung kontak ACT (Aksi Cepat Tanggap www.act.or.id) yang dari awal sudah saya minta bantuannya untuk memastikan bantuan sampai ke lokasi dengan lancar dan mudah.
Malam itu akhirnya ada 11 relawan (2 merangkap pengemudi) yang HANYA berbekal keinginan membantu TANPA modal lain, berangkat menuju lokasi bencana, Jogjakarta.
Tapi masih ada masalah, karena kami bukan orang yang kelebihan uang untuk melakukan ini semua, tapi kami mau melakukannya hanya karena dorongan untuk membantu orang lain. Jadi kami sama sekali tidak ada persiapan dana apapun. Maka kami hubungi salah seorang teman yang akhirnya menyanggupi untuk mendukung seluruh biaya operasional. Bersyukur dia memahami arti “relawan”.
Jam 23.00 persiapan selesai di lakukan, kami yang tegang sejak sore hari karena keterbatasan akomodasi dan penggantian personil relawan, yang menyebabkan salah satu relawan staf lembaga kami terpaksa kami tinggalkan, tidak bisa ikut, akhirnya lega dengan selesainya persiapan.
Dengan diiringin do’a dari ustad Atang (yang juga ikut berangkat), kami berangkat menuju lokasi.
Niat baik tidak selalu mudah
Perjalanan malam itu tidak selancar yang kami duga. Kemacetan jalur pantura yang luar biasa menyebabkan kami tertahan hampir 3 jam tanpa bergerak. Belum lagi kemacetan yang terjadi di daerah Jawa Tengah, dan kelelahan para relawan yang memang sejak pagi hari Jum’at belum beristirahat sama sekali. Malam itu yang paling mengganggu pikiran saya hanya satu, bagaimana seandainya dalam keadaan semua kelelahan terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan dan bantuan tidak sampai ke lokasi. Disamping kekhawatiran istri saya yang juga ikut dalam rombongan, bagaimana dengan anak-anak kami yang kami tinggalkan di rumah.
Namun kekhawatiran itu pelan-pelan hilang ketika memasuki wilayah Magelang, Jawa Tengah, yang sedikit demi sedikit menampakkan wajah muram akibat bencana. Debu vulkanik mulai terlihat menutupi atap dan kaca mobil yang datang dari arah berlawanan dengan kedatangan kami, yakni dari Jogjakarta.
Menurut perhitungan, seharusnya kami tiba di lokasi jam 13.00, tetapi pukul 13.00 kami masih di Semarang, artinya masih perlu 3 jam lagi untuk mencapai lokasi.
Kontak dengan salah satu tetangga di perumahan yang kebetulan mudik ke Jogjakarta terus kami lakukan, begitu juga dengan koordinator relawan yang akan kami temui.
Pukul 16.05 kami bertemu dengan tetangga kami tersebut di lokasi yang sudah ditentukan, masih jauh dari lokasi bencana. Dari sini kami sudah tidak ingat kekhawatiran selama perjalanan, karena kami sudah memasuki wilayah yang terkena bencana.
Jarak pandang hanya 10-20 meter, seluruh kota Jogjakarta tertutup debu vulkanik yang masih melayang di udara dan menyebabkan mata perih. Masker sudah harus kami kenakan.
Perjalanan paling menegangkan
Pukul 16.55 kami bertemu dengan korodinator relawan di Jogjakarta. Seorang tangan kanan kepercayaan Kanjeng Sultan di bidang konservasi budaya, yang petang itu tampil layaknya seorang relawan, bukan seorang budayawan kepercayaan orang nomor satu di Jogjakarta.
Segera kami dipandu menuju lokasi tertinggi tempat pengungsi ditampung. Mendengar itu semua terdiam, terbayang kami akan ke lokasi yang memiliki potensi bahaya tinggi. Namun semua bertekad bahwa malam itu semua bantuan harus disampaikan.
Segera bergabung petang itu, salah satu adik teman ini yang menjadi anggota tim SAR. Seorang pemuda “gila”, karena satu hari menjelang letusan pertama, pemuda ini berencana dioperasi lever-nya yang bermasalah, namun dia membatalkan rencana itu ketika mendengar gunung Merapi meletus dan banyak yang harus dibantu. Maka dia segera keluar dari rumah sakit dan bergabung dengan tim SAR yang lain. Petang hingga malam itu kami tidak mengira bahwa teman ini orang yang sebenarnya juga memerlukan bantuan, dia jauh lebih semangat dari kami, ternyata semangat untuk menolong mampu mengalahkan rasa sakitnya.
Dalam perjalanan kami bertemu dengan tim monitor status gunung Merapi, yang ikut bergabung dengan kami. Tujuan dirubah. Yang tadinya menuju lokasi penampungan diganti menuju wilayah RING 1, titik tertinggi yang masih bisa diakses relawan, diperkirakan disitu masih ada 100-an pengungsi, berjarak 10 km dari puncak Merapi. Kami tidak sempat berpikir atau berdiskusi lama. Keputusan harus segera diambil, karena sekeliling menjadi semakin gelap dan gerimis mulai turun. Bahkan penjelasan dari tim pemantau gunung Merapi tentang potensi bahaya dari dua jembatan sungai yang akan kami lewati bisa tenggelam oleh lumpur lahar panas bila tiba-tiba gunung Merapi meletus, sudah tidak kami “dengar” lagi. Semua bertekad harus menuju wilayah berbahaya tersebut.
Pukul 17.48 kami tiba di RING 1, kami tidak diperbolehkan naik lagi, disitu titik terakhir yang boleh kami akses. Kami lihat beberapa wartawan TV dan banyak anggota polisi berjaga dan memastikan tujuan kedatangan kami.
Setelah menjelaskan tujuan kedatangan, segera kami didata, termasuk barang-barang kami.
Pukul 18.20 kami menyelesaikan pendataan barang. Dalam suasana tegang, karena lampu tidak mencukupi, beberapa kali mati lampu, suasana dingin dan mencekam karena rintik hujan yang mulai membesar, tidak tahu persis dimana kami berdiri saat itu, dan dimana letak puncak gunung Merapi, tekad kami hanya satu, “sumbangan harus sampai ke yang berhak”. Segera kami diminta menuju lokasi pengungsian, yang berjarak 2 km dibawah lokasi RING 1 ini.
Sepanjang perjalanan teman koordinator menjelaskan bahwa pepohonan yang tumbang di kiri-kanan jalan adalah akibat terjangan angin dan debu vulkanik akibat letusan terbesar Sabtu dini hari, yang memaksa 2.000-an penduduk yang mengungsi di wilayah RING 1 berlarian turun sepanjang 2km, lari, tanpa kendaraan, dengan dikejar debu vulkanik, sehingga tidak menyisakan satupun warga pengungsi di wilayah itu.
Hanya istighfar yang terus menerus mampu kami ucapkan seraya membayangkan kalau seandainya sekarang Merapi meletus lagi, mungkin kami korban berikutnya, karena kendaraan tidak bisa melaju kencang akibat jalanan licin terguyur hujan yang terus membesar.
Pukul 18.45 kami sampai di tempat pengungsian di kantor kepala desa Wukirsari. Tetapi karena kecilnya gudang, kami disarankan naik 1 posko lagi, yang berjarak 500 m dari lokasi ini. Maka truk yang sudah susah payah masuk lokasi penampungan yang becek dan tergenang, harus putar balik menuju lokasi berikutnya.
Para relawan sudah tidak ingat lelah, ngantuk, basah kuyup, sepatu yang belepotan lumpur maupun rasa lapar. Semua hanya berpacu dengan waktu untuk menyelesaikan tugas sebelum datang masalah berikutnya. Bisa jadi masalah itu kelelahan yang sangat, atau malah letusan berikutnya. Untuk kasus terakhir ini tidak ada yang bisa memprediksi.
Tetapi dari cerita teman koordinator, udara sejuk malam itu menunjukkan bahwa aktifitas gunung sedang rendah, artinya kemungkinan malam itu meletus kecil.
Akhirnya
Pukul 18.55 kami sampai di tempat penampungan terakhir yang kami tuju. Disitulah kami menurunkan sebagian besar bantuan yang sudah terambil sebagian di RING 1.
Selesai menurunkan semua bantuan, barulah kami sempat ngobrol dengan beberapa relawan lokal yang menjaga posko ini. Kami baru sadar bahwa posko ini diisi oleh penduduk dari kampung Kinahrejo, kita tahu kampung ini tempat sang legenda Mbah Marijan bermukim.
Pukul 19.26 kami berpamitan kepada relawan yang berjaga di posko ini untuk menuju kota Jogjakarta dan merencanakan tindakan selanjutnya.
Disini pula kami berpisah dengan teman saya yang menjadi koordinator, relawan SAR yang seharusnya operasi lever, dan tim pemantau aktifitas gunung merapi yang dari HT-nya terus terdengar laporan status terkini gunung Merapi, dengan menyisakan satu PR yang dibisikkan teman saya. “Ini adalah lokasi termudah yang bisa dijangkau, di dalam sana ada puluhan posko kecil yang sulit dijangkau dengan kendaraan roda 4, hanya motor atau jalan kaki, ditunggu pengiriman bantuan selanjutnya”. Saya tercekat, seandainya kami cukup waktu untuk merenungkan kata-kata teman itu, pengin rasanya menangis dan menyesal, mengapa bukan mereka yang kami bantu? Tapi, teman kami ini menjelaskan, bahwa memang kami tidak diijinkan menuju lokasi itu, terlalu riskan, dan hanya relawan lokal yang mengenal persis medan disitu yang diijinkan.
Pukul 20.30 kami tiba di rumah salah satu relawan. Mengingat kondisi kami semua yang sudah lelah, kami disarankan untuk istirahat secukupnya dan berangkat esok paginya. Pukul 22.30 kami semua memantapkan niat untuk tidur disitu.
Minggu 31 Oktober 2010 pagi pukul 03.40 kami berangkat kembali menuju Bekasi, dengan diiringi rasa kantuk dan lelah yang masih menyisa.
Sayang sekali selama di Jogja kami tidak bisa melihat sosok gunung Merapi, karena selalu tertutup awan dan debu vulkanik.
Selama perjalanan kami diiringi hujan lebat, yang memaksa kami berjalan pelan-pelan. Ketika memasuki Jawa Barat barulah kami pacu kendaraan untuk mengejar waktu supaya tidak terlalu malam sampai di rumah.
Di tengah jalan kami menerima SMS dari teman relawan Jogja, “Merapi batuk lagi!”. Astaghfirullah…
Pukul 20.00 kami sampai di komplek perumahan kami.
Alhamdulillah, meskipun kami tidak berhasil menghibur warga, setidaknya amanah dari teman-teman sudah kami sampaikan, insyaallah kepada yang berhak menerimanya, serta bisa membawa oleh-oleh sekantong kecil debu vulkanik pesanan anak saya.
Cikarang, 1 Nopember 2010
Ibnu Qosim

