(Tanpa bermaksud riya. semoga menginspirasi)
Saya tidak tahu persis, apakah istilah itu benar atau tidak, atau setidaknya sudah ada sebelum saya menulis ini atau tidak. Itu tidak penting, karena istilah itu sekilas saja langsung muncul di benak saya ketika bertemu dengan orang-orang yang saya temui beberapa waktu lalu.
Sebenarnya itu istilah lain dari gila pahala, hanya entah kenapa kata crazy lebih menggemaskan bagi saya dan memberikan tekanan lebih. Lebih dari sekedar gemar atau tergila-gila, tapi benar-benar mendarah daging.
Selanjutnya terserah Anda memahaminya. Pokoknya kira-kira begitu lah.
Istilah itu muncul begitu saja di benak saya kira-kira satu tahun yang lalu. Ketika itu saya bertemu dengan seorang bapak muda, mestinya lebih muda dari saya, wong anaknya yang paling besar juga baru masuk SD, sedang anak saya yang pertama sudah kelas 1 SMA.
Bapak muda yang bosan menjadi karyawan dan kemudian memilih jalur bisnis sendiri ini belakangan saya tahu, kesehariannya mengelola bisnis bahan kimia untuk industri. Namanya mengelola, ya mestinya tidak terjun langsung, apalagi bukan manufaktur, tapi trading.
Suatu hari saya yang belum lama jadi penghuni komplek perumahan dimana bapak muda ini tinggal,
pernah bertanya kepada beliau setelah ngobrol ngalor ngidul. “Trus kerjaan utamanya apa pak?”. “Oh, saya mah, tukang sapu masjid, ngerangkap muadzin”, jawabnya dengan logat kental Garut-nya. “Jadi sebelum dhuhur saya musti sudah di masjid nyiapin masjid untuk shalat. Kalau si amang tidak ada, ya lanjut adzan”. Si amang yang dimaksud adalah sang merbot masjid (atau kalau istilah teman saya, James Bon, “penjaga mesjid dan kebon”).
Saya belum pernah membuktikan sebelum dhuhur apakah bapak muda ini benar sudah stand by di masjid, tapi pernah beberapa kali melihat beliau memang benar-benar ngepel masjid.
Yang akhirnya membuat saya yakin ini bapak pahala crazy adalah, ketika lebaran haji tahun 2008 yang lalu. Ketika itu entah kenapa oleh bapak muda ini saya didapuk untuk mencari ustad yang akan menjadi khatib dan imam pada shalat Idul Adha di salah satu masjid di komplek kami. Karena saya terinspirasi kemaruknya dia, saya menyanggupinya. Agak lama saya mencari informasi keberadaan ustad yang masih belum mendapat booking-an menjadi imam atau tidak mudik. Mencoba menghubungi beberapa ustad atau teman, ternyata kebanyakan sudah dibooking atau mudik.
Setelah telpon sana telepon sini, akhirnya dapatlah saya nama seorang ustad yang dulu pernah menjadi pembimbing haji rombongan kami. Segera saya laporkan ke ketua panitia pelaksana dan saya tembuskan (via SMS) ke bapak muda tukang sapu masjid tadi.
Yang membuat saya kaget adalah, ternyata bapak muda ini sedang di Mekah karena manjalankan ibadah haji. Yang membuat kaget tahap kedua dan sedikit dongkol di awal, adalah jawaban beliau. “Jazakallah haj, saya sedang di depan ka’bah nih, ana do’akan pak haji sekeluarga diberkahi dan acaranya lancar. Afwan, saya cuman pengin dapat pahala doang jadi panitia nyambungin informasi dari ketua panitia ke pak haji. Wassalam.”. Semprul, pisuh saya seketika waktu itu. Astaghfirullah, harus kesel atau syukur nih.
Sejak saat itu entah kenapa saya jadi ikut-ikutan pahala crazy. Tentu saja di awal saya masih milih-milih kegiatan yang sesuai dengan kemampuan dan pengalaman saya. Masak iya saya harus melakukan sesuatu yang saya tidak menguasai ilmu tentang itu.
Tapi ternyata semakin kesini semakin asik juga menggali pahala dari hal-hal yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan keahlian atau bidang yang kita pahami atau kuasai.
Tidak percaya?, saya bisa berbagi tips, bagaimana menggali pahala dan membuat kita bisa menjadi kelompok pahala crazy ini.
Seperti saya tulis sebelumnya pada postingan Ulang Tahun, saya dan istri yang saat itu badan rasanya sudah kriyet-kriyet, memaksakan diri untuk bergabung dengan 2 teman dokter yang akan memberikan pemeriksaan dan pengobatan gratis di salah satu yayasan anak yatim piatu. Ketika kami datang ke lokasi, ternyata tim dokter belum datang, sehingga kami belum bisa berbuat banyak. Saat itulah muncul cloud callout di kepala istri, “Yuk kita siapkan lokasi saja”, sambil mencari sapu dan pel. Para santri yang sore juga sedang siap-siap untuk diperiksa langsung mencari sapu sesuai permintaan kami. Ketika melihat kami membersihkan karpet dan menyapu aula, para santri segera merebut sapu kami. Tapi kami suruh mereka mengerjakan hal lain yang ada.
Ketika tim dkter datang maka istri segera membantu kedua ibu dokter itu mempersiapkan segala sesuatunya. Saya sendiri? Bengong karena memang tidak memiliki keahlian di bidang kedokteran. Akhirnya saya mengepel lantai aula. Nah saat itulah ustad pemimpin yayasan keluar dan segera berteriak ke santri yang ada di sekitar saya mengepel.
Saya yang terkejut namun tidak begitu mudheng bahasa daerah yang digunakan ustad hanya tersenyum sambil mengucapkan salam. Ustad segera berlari ke arah saya. “Pak haji kenapa jadi ngerjain ini? Ini kerjaan anak-anak?”. “Biarin tad, saya cari pahalanya disini saja”, jawab saya kalem sambil terus melanjutkan ngepel. ”Eh, jang, ente ganti pak haji. Pak Haji kita nyiapin ruangan sebelah aja, pahala lebih gede”. Teriak ustad yang kami sambut dengan tawa renyah.
Akhirnya sore itu dengan mata sedikit kriyep-kriyep karena memang sudah hampir low bat, saya mencoba menggali pahala. Sedapatnya, wong memang bisanya hanya itu.
Begitu juga ketika sekarang saya didapuk menjadi tim donasi untuk kegiatan baksos pemeriksaan kesehatan gratis untuk sodara-sodara di atas (istilah kami untuk warga di sekitar komplek perumahan kami). Karena saya memang hanya modal badan, begitu acara pemeriksaan kesehatan berlangsung saya ya hanya bantu-bantu pasien membawa kartu pasien ke bagian pemeriksaan atau peracikan obat. Kalau ternyata pasien sudah terampil, ya bantu-bantu menyusun kartu pasien atau status pasien. Ya memang bisanya hanya itu.
Tips kedua. Kalau di masjid kita ada lembaran jum’at, biasanya berbentuk tabloid yang disediakan oleh DKM masjid untuk dibagikan secara gratis kepada jama’ah, nah, kesempatan tuh, membagi tablid ke jama’ah. Tapi ya jangan dibagi satu per satu, kapan shalat sunnah dan dzikirnya? Bagi lah per kelompok, insyaallah yang duduk di dekat tablid itu akan dimudahkan dengan usaha kita untuk mendapatkan informasi.
Tips ketiga. Ketika selesai acara, kebanyakan kita suka meninggalkan kesan mendalam tentang kegiatan yang barusan diikuti. Saking mendalamnya, sampai-sampai sampah pun kita tinggalkan berserakan. Aneh memang, kadang kita mengikuti pengajian, mestinya kegiatan amal baik, sampai-sampai kita nangis-nangis saking harunya. Eh, begitu selesai kita bertaubat, kita meninggalkan sampah berserakan, yang artinya menggali dosa lagi.
Nah, disitu celah pahala bagi kita. Biarin dibilang pemulung. Pernah istri ditanya, atau disindir ya? oleh seorang ibu, yang ketika itu selesai shalat idul adha, memunguti koran alas shalat untuk dikumpulkan supaya mudah dibuang, dikira mau memulung. Istri hanya tersenyum tanpa perlu menjelaskan. Pokoke hanya memberi contoh lah.
Tips keempat. Menyapa orang yang kita kenal maupun tidak begitu/saling mengenal. Contohnya satpam di komplek perumahan kita, tukang sampah yang rajin menyatroni rumah kita, abang ojek yang mangkal di dekat rumah kita, pemulung yang pagi uthuk-uthuk in the morning sudah memilah sampah kita, tetangga kita yang sedang jogging yang kita temui sepulang dari masjid, dan masih banyak orang-orang yang bisa kita sapa dengan senyum setulus dan semanis mungkin.
Tips kelima. Sediakan air minum di depan rumah kita. Sahabat Utsman ra, pernah menebus sumur seorang kakek Yahudi yang waktu itu tidak boleh digunakan oleh kaum muslimin. Setelah dibeli oleh Utsman, maka disedekahkan untuk semua umat muslim yang ingin mengambil air dari sumur tersebut.
Kalau kita bisa menyediakan air minum untuk siapa saja yang kewat di depan rumah insyaallah pahala akan mengalir seperti air yang mengalir melalui kerongkongan orang yang meminumnya, dan insyaallah mereka yang meminumnya akan senang dan siapa tahu mendoakan kebaikan untuk kita. Uenak toh?
Tisp lain? Silakan gali sendiri. Yang jelas, pahala tidak perlu yang sak hohah tapi sekali thok. Insyaallah yang kecil tapi terus menerus akan lebih Allah SWT sukai, karena disitu terkandung nilai istiqomah dalam menjalaninya.
Sedekah yang paling mudah adalah memberikan senyum yang tulus ihlas kepada sesama. Tapi entah kenapa sudah agak lama saya jadi sulit tersenyum. Senyum sih, tapi kok kayaknya kurang dalam asalnya, terlalu ngambang antara perut dan kerongkongan.
Welcome to the club of pahala crazy!
Cikarang, Rabu 10 April 2010