Di kalangan pecinta “lokomotif”, yang selalu ngebul setiap saat tanpa kenal waktu, tempat dan situasi, maka “ahli hisab” ini menjadi istilah keren untuk para pembakar tembakau, yang katanya penyumbang devisa terbesar di negeri ini. Meskipun kadang miris juga ketika tahu bahwa para penyumbang devisa ini, yang menurut Susenas tahun 2001 54,5% pria menjadi ahli hisab ini, ternyata sebagian besar berasal dari keluarga kurang mampu.
Opo tumon, untuk makan sehari-hari saja tidak mencukupi empat sehat lima sempurna kok jadi penyumbang devisa terbesar.
Ono-ono wae, aya-aya wae, ada-ada aja orang bikin istilah untuk membanggakan orang yang tidak mudheng.
Belum lagi beberapa hari terakhir ini, mosok bocah sak precil, sak uprit, buang ingus juga belum lurus, kok bisa menghabiskan 2 bungkus rokok sehari. Dan orang tuanya juga dengan senangnya mensuplai “racun” (istilah mantan bos saya yang pecandu berat barang ini) ini ke anaknya tanpa berusaha mencari tahu bahaya yang ditimbulkannya dan menghentikannya.
OKeh!, wis ah, kita stop bicara tentang tembakau linting ini, karena saya memang tidak sedang menulis tentang itu. Dan saya bukan ahlinya, wong ngrasain asapnya sampe merem melek aja belum pernah.
Yup, saya sedang menulis tentang ahli hisab yang dimaksud dalam istilah agama. Jadi bacanya “khisab”. Yaitu orang yang pandai menghitung amal. Pandai bukan berarti karena sekolahnya atau karena pengetahuannya, tapi karena kepeduliaannya terhadap amalan yang dilakukan.
Sama juga pandai bersyukur bukan orang yang banyak pengetahuan tentang arti dan cara bersyukur, tetapi orang yang selalu berusaha mencari celah untuk selalu bersyukur terhadap segala hal yang dia terima dan alami, yang baik dan yang buruk (lho, buruk kok disyukuri? ha itu urusan lain lagi, ntar nulis lagi), yang besar maupun yang kecil.
Nah, kemarin saya mendapat bisikan dari seorang teman, ternyata saya sudah dihisab orang lain (sekali lagi, baca “khisab”, jangan keliru, bisa timbul persepsi lain!).
Yang membuat saya terkejut, dan saya tidak yakin apakah saya berhasil menyembunyikan keterkejutan saya itu di depan teman tadi, ternyata si ahli hisab yang menghisab saya ini bukan bermaksud baik, tapi untuk tujuan “membandingkan”. Gampangnya, dia melihat rumput di halaman rumah saya lebih hijau dari halamannya sendiri. Kalau ke orang jawa saya lebih mudah menjelaskannya, “wang sinawang”. Dan itu sangat tidak fair.
Cerita bermula ketika teman ini pernah ditanya oleh si ahli hisab tadi, bagaimana mungkin dia bisa membeli mobil, padahal mestinya pendapatan yang teman terima tidak terpaut jauh dari dirinya. Kalau diukur dari pekerjaannya sehari-hari, memang agak sulit diterima akal kalau teman ini bisa memiliki mobil sendiri. Tapi si ahli hisab ini tidak melihat realita, atau kurang mencari informasi terlebih dahulu tentang teman ini. Dia tidak tahu bagaimana perjuangan teman ini setiap Sabtu dan Minggu, pagi esu-esuk uthuk-uthuk in the morning sudah mulai mancal sepeda onthelnya, sebelum akhirnya berhasil membeli sepeda motor, blusukan ke pasar mencari barang dagangan untuk stok seminggu isi warungnya. Sementara Senin sampai Jum’at si teman ini menjadi sosok lain, berseragam pabrik, mengenakan name tag berlogo keren, dengan kartu nama tertulis jabatan lumayan, nggak malu-maluin. Dan hanya sosok inilah yang dinilai si ahli hisab ini.
Dengan agak kesal teman ini menerangkan “jabatan” di luar pabrik, sebagai owner dan direktur purchasing sekaligus business planning sebuah usaha bisnis penyokong kehidupan masyarakat kecil. “Pendapatan istri saya dari warung bisa lebih besar dari gaji saya!”, teman berusaha menjelaskan dengan nada tinggi. “Kamu tahunya saya nongkrong diatas jok mobil, nggak tahu istri saya sekarang polos tanpa perhiasan!”. “Lagian itu mobil untuk kulakan!”.
Ah… saya salut dengan teman saya yang satu ini. Jauh sebelum menjadi karyawan menengah bawah seperti ini, ketika teman-temannya sibuk menghabiskan sangu dari orang tuanya untuk mentraktir pacar mereka di kantin-kantin kampus, dia sudah disibukkan dengan usaha memproduksi produk berbahan dasar kulit sapi, seperti tas dll. Karyawannya sampai puluhan orang. Kalau mau, setiap bulan bisa membeli 4 motor, saat itu. Tapi roda bisnis sedang berputar ke bawah, ketika kejujuran kurang didukung pengalaman bisnis dengan kartel, mengakibatkan teman ini terpaksa mengurangi karyawannya satu persatu sampai akhirnya harus menyerah menutup usahanya untuk meminimalisir hutang.
Jiwa bisnis yang dia miliki, dan keinginan supaya istri bekerja di rumah, ternyata menumbuhkan peluang, berupa warung di rumah tempat tinggal dia sekarang.
Kembali ke saya yang dihisab tadi.
Saat mendengar cerita kawan tadi, bahwa saya mulai dibicarakan, “kok seorang Ibnu Qosim bisa mengajak keluarganya umroh, pasti ada yang nggak beres dengan keuangan di tempat kerjanya”, terus terang emosi saya hampir meledak. Bukan marah, tapi kesal. Apa bedanya ya?…. kesal pada diri sendiri. Kenapa ibadah saya yang berusaha saya persiapkan dengan baik (thoyib), dilaksanakan dengan baik dan ditutup dengan baik serta berharap bisa memberikan kebaikan kepada orang lain ini justru menyebabkan sesorang melakukan perbuatan seperti itu?
Saya tidak bisa men-judge bahwa si ahli hisab ini benar atau salah. Tapi bahwa apa yang saya lakukan menyebabkan orang lain berprasangka buruk, sungguh membuat saya terpukul. Selesai shalat ashar saya merenung sebentar, apa masih ada jalan/cara saya yang saya tempuh selama ini kurang sesuai dengan tuntunanNya? Apa ada kesombongan dalam diri yang menyebabkan saya mendapat teguran seperti ini?
Jelas tidak mungkin dan tidak perlu saya menjelaskan ke semua orang bagaimana kami sekeluarga bisa melakukan itu semua. Karena hanya akan menyebabkan riya dalam diri. Tapi bagaimana dengan sangkaan kurang baik orang itu? Apakah saya biarkan saja atau harus saya klarifikasi?
Terus terang saya sengaja tidak menanyakan ke teman tadi, siapa si ahli hisab itu. Saya tidak mau disibukkan dengan dosa yang berpotensi saya kerjakan bila tahu siapa orang itu. Biarlah dia sebagai dia. Ini urusan saya sama Allah SWT. Saya hanya perlu mendo’akannya, dan mudah-mudahan makbul.
Saya hanya berharap orang itu akan mendapatkan pencerahan, entah melalui siapa, untuk tidak terlalu sering menghisab orang lain, dengan tujuan membandingkan.
Mengingatkan dan menjaga orang lain berbuat maksiat adalah baik, bahkan bisa menjadi wajib. Tapi ketika itu dilakukan di belakang orang yang seharusnya diingatkan, atau malah menyebarkannya kepada orang lain, bukankah itu malah menyulut rasa iri dan dengki dalam diri?
Malam, ketika semua isi rumah sudah tidur, di ruang kerja istri sambil ngutak-atik komputer jangkrik yang akhirnya gagal diselamatkan, saya terus dihantui kabar teman tadi.
Saya sangat berterimakasih pada teman ini, yang memberi tahu bahwa ibadah kami masih menyisakan duri dari banyak duri-duri yang belum dibuka oleh Allah SWT di depan mata kami.
Kami harus terus dan tidak boleh lengah untuk selalu beristighfar. Karena ibadah yang kami lakukan ternyata belum memberikan manfaat untuk orang lain seperti yang kami minta.
Akhirnya malam itu saya tutup dengan mukulin kacang arab yang tidak pecah kulitnya, dan secara alami tersaring, alias tidak termakan karena tidak bisa dikupas dengan tangan.
Lumayan, berhasil memecah setengah lusin kacang arab dengan palu.
Tak…tek…dhak…dhuk…klethak…klethek… jarum jam menunjukkan pukul 23.35.
Cikarang, Rabu 7 April 2010
godaan ikhlas yang paling berat datangnya setelah ibadah di laksanakan. selama kita berpegang bahwa ibadah kita hanya untuk Allah semata.maka insya Allah, Allah menjada nilai ibadah kita. Berhati-hatilah sebelum beruurusan dengan khisab orang lain. mereka berhak menghisap, tetapi sebetulnya yang perlu kita perhatikan adalah lebih penting mamikirkan khisab Allah pada diri kita. jadi…. kembalikan kepada Allah semua ibadah kita, biarkan Allah yang akan membantu kita mengklarifikasi, sama sekali bukan menjadi bagian sekecil apapun urusan khisab orang lain kepada kita. tanpa berprasangka negatif kepada orang lain.
sserahkan semua kepada Allah, bahkan apapun yang digunakan untuk sampai ke tanah suci semuanya milik Allah, kita hanya mengembalikannya dengan jalan yang kita bisa…
Allah maha mengetahui, dan kalo Allah tidak berkehendak memanggil, saya yakin 1000% umroh tidak akan terlaksana. ibadah tsb bukan perjalanan biasa yang bisa digantikan oleh waktu dan tempat lainnya, hanya hak prerogatif Allah untuk menentukan waktu dan pelaksanaannya.
wallahua’lam …
Comment by hs — 9 April 2010 @ 15:31