Ibnu Qosim – Mencoba ngga BINUN

6 April 2010

Ritual yang Ritual

Filed under: Tidak terkategori — aikyu @ 11:26

Setelah perjuangan panjang dan melelahkan, lelah fisik, pikiran dan khususnya hati, akhirnya alhamdulillah atas ijinNya kami sekeluarga bisa diberangkatkan oleh Allah SWT menuju rumah tuaNya di Bakkah/Mekah.

Perjuangan menyangkut biaya, yang menurut sebagian teman, kami terlalu memaksakan diri, juga perjuangan waktu, karena sampai 5 hari sebelum pengurusan visa, saya masih di luar negeri dan belum tahu kapan pulangnya, sehingga benar-benar ketegangan memuncak, malah hampir saja saya menyerahkan urusan ini ke istri di tanah air untuk memutuskan apakah jadi berangkat atau dibatalkan, mengingat saya masih belum jelas jadual kepulangan ke tanah air.

Tentu saja bukan hanya menyangkut masalah jadual kepulangan saya, tetapi yang jauh lebih penting adalah kesiapan fisik, dana, dan kesiapan anak-anak dalam hal mental mereka.

Namun Allah selalu melihat dan menilai hambaNya dari usahanya. Menjelang detik-detik keputusasaan, datang kabar gembira, bahwa saya bisa pulang ke tanah air 2 hari kedepan. Tentu saja untuk itu harus dibayar mahal dengan kerja keras untuk menyelesaikan tugas. Kabar gembira ini juga langsung disambut keluarga di tanah air dengan mempersiapkan segala hal yang tertunda karena ketidakjelasan schedule tadi.

Bagi sebagian besar orang muslim, ke tanah suci adalah sebuah peristiwa besar, sehingga perlu persiapan yang besar pula. Lebih dari sekedar persiapan finansial atau bekal fisik, tetapi lebih ke perhitungan untung rugi. Maksudnya jangan sampai sudah mengeluarkan dana yang tidak sedikit tapi malah buntung, rugi karena tidak bisa beribadah secara maksimal bahkan lebih parah lagi tidak mabrur & maqbul. Jadi perhitungan untung rugi ala Allah SWT.

Namun tidak jarang pula, ke tanah suci adalah sebuah ritual keagamaan yang akhirnya hanya menjadi ritual/rutinitas keagamaan yang entah kenapa dari kacamata kami kurang beruntung, kurang sakral dan lebih mementingkan nilai yang terkadang terlalu kecil untuk orang yang bermodal pas-pasan.

Kami sekeluarga, termasuk yang pas-pasan ini. Benar-benar pas-pasan. Malah seperti saya tulis di depan tadi, kami memaksakan diri. Karena kami berangkat umroh bukan karena kelebihan harta dan perlu berwisata sekalian ibadah, namun benar-benar karena ingin nanting/menguji keimanan anak-anak kami dan supaya mereka langsung menghadapkan wajah mereka ke Ka’bah Baitullah di Masjidil Haram dan berikrar sendiri kepada Allah SWT tentang masa depan keimanannya. Dan alhamdulillah kami diijinkan oleh Allah SWT melakukan itu, tepat ketika thawaf wada. Kami semua berikrar di depan Kabah tentang cita-cita kami untuk selalu menjaga keimanan dan keislaman sampai kami meninggalkan dunia ini.

Bahkan untuk bekal, kami hanya mengandalkan sisa uang bekal saya ke Vietnam yang menegangkan itu. Ya hanya itu bekal kami, plus keyakinan kami akan terjamin hidup tidak akan kekurangan makanan sampai pulang. Dan alhamdulillah Allah SWT menjamin kehidupan kami.

Soal oleh-oleh, ini kebiasaan yang melekat di benak kita, orang Indonesia, kalau bepergian, pulang seolah harus membawa oleh-oleh, apapun itu.

Bahkan saya yang pulang dari Vietnam terburu-buru, masih sempat mborong pernak-pernik khas Vietnam, meskipun dengan bentuk dan harga yang memalukan, tapi yang penting oleh-oleh toh?

Maka ketika ibadah pokok (umroh) selesai, setiap pulang dari masjid Haram, entah kenapa mata otomatis menengok ke kanan dan kiri, mendelik untuk menyelidiki barang apa yang pantas untuk dijadikan oleh-oleh.

Kami yang dari tanah air sudah merencanakan untuk tidak mengkhususkan belanja oleh-oleh, tetapi hanya mampir seperlunya ke toko ketika pulang dari masjid, pun akhirnya menghabiskan 2 lembaran kertas dari negaranya Obama.

Bahkan ketika rombongan menuju Jeddah sebelum ke bandara, masih sempat mampir ke barisan toko, yang sekali lagi, menjual oleh-oleh untuk kerabat di tanah air. Begitu turun dari bus, udara panas sore itu segera menyergap. Wush!…hm…. udara Jakarta, pikir saya ketika merasakan panas dan bisingnya kendaraan berlalu lalang di pusat kota Jeddah. Dan benar saja, pengalaman 3 tahun lalu terulang kembali. Keluar masuk toko, disambut dengan ucapan selamat datang yang ramah dan merayu, menggunakan bahasa Indonesia bercampur bahasa daerah Indoensia lainnya, serta selalu diakhiri dengan kata-kata “murah” dan “halal”.

Namun sore itu saya hanya masuk 1 toko, melihat-lihat sebentar dan keluar lagi, duduk di bangku depan toko, sambil memasang kaca mata hitam untuk menghalau terik matahari yang sangat silau sekligus supaya leluasa mengamati para jama’ah yang seolah toko-toko di Mekah dan Medinah tidak cukup memuaskan nafsu belanja mereka.

Tidak berapa lama, seorang bapak-bapak memarkir mobilnya tidak jauh dari saya duduk. Masuk toko yang saya masuki tadi, sebentar kemudian keluar, sambil tersenyum menuju tempat duduk saya. Segera saya buka kaca mata hitam saya dan bersalaman saling memperkenalkan diri. Beliau seorang bapak belum sampai 50 tahun, sudah sejak tahun 1986 bekerja di Konsulat Jendral Indonesia di Jedaah. Ternyata sedang mengantar belanja saudaranya yang juga sedang umroh.

“Pulang dengan pesawat jam 21 ya pak”, tanyanya menebak. “Oh iya pak, sambil menunggu jam terbang nih, pada ngabisin real, toh recehan juga tidak berlaku di tanah air”, jawab saya setengah bercanda, yang ditimpali dengan tawa dan rangkulan ringannya di pundak saya.

Pada saat itu anak laki-laki saya keluar toko Ali Murah, membawa t-shirt seharga SAR10, “beli sendiri pa, pakai uang yang dikasih bude”, katanya sambil ikut duduk setelah sebelumnya bersalaman dengan teman baru saya. Yang dimaksud bude adalah besan keponakan yang sama-sama berangkat umroh.

Setelah ngobrol sana-sini tentang hobi orang Indonesia menghabiskan sisa uang Real di Jeddah, bapak ini memberi warning ke saya. “Tapi sepertinya harus menunggu sampai jam 3 pagi lho pak, soalnya sudah 4 hari ini penerbangan GA dari tanah air agak kacau jadualnya, jadi siap-siap saja, sabar, yang penting pulang selamat”, sambil sekali lagi menggamit pundak saya dan anak saya sambil beranjak berdiri karena saudaranya telah keluar toko dengan wajah sumringah menenteng 4 plastik besar penuh oleh-oleh.

Saya sendiri masih tetap duduk, malas mau jalan-jalan, karena masih harus menyimpan tenaga untuk stand by hingga pukul 3 dini hari, sementara waktu baru menunjukkan pukul 17, masih 10 jam lagi….

Ketika istri keluar toko membawa tas plastik kecil berisi kaos kaki, “Untuk teman-teman ngaji anak-anak”, jelas istri seolah ingin membela diri sebelum saya tanya “sudah habis belum Real-nya?”, saya hanya tersenyum kecil. Seketika istri membuka dompet untuk menunjukkan sisa uang receh. Ternyata masih ada SAR4. “Sudah sekalian habiskan, toh nggak berlaku di tanah air”, suara saya entah kenapa seolah meloncat sendiri dari mulut, menirukan si Ali seorang warga Pakistan, pemilik toko Ali Murah yang sangat fasih berbahasa Arab, Indonesia, Jawa dan Sunda. Akhirnya istri teringat roti jambal yang dibeli di dekat hotel di Mekah sebelum berangkat tadi. “Mama beliin mayonais atau yoghurt ya untuk makan roti jambal”, suara istri sambil jalan tanpa menunggu jawaban dari saya. Halah, pasti setuju, wong itu karemane, kesukaannya, mungkin itu pikir istri. Namun dari dalam toko istri teriak minta persetujuan dari saya karena ternyata harganya SAR16, artinya kurang SAR12, tapi si penjaga toko memaklumi, “SAR4 dan Rp30.000, halal hajah”, berbinarlah mata istri berhasil menghabiskan recehan uang Real untuk mengganjal perut suaminya. Setelah dompet terkuras Real-annya, dan anak masing-masing juga telah membelanjakan uang Real pemberian budenya, kami masuk mall untuk mencari tempat duduk.

Seperti biasa, tidak betah dengan duduk merenung, Eldyn, anak laki-laki saya ngabur sendirian, kemana lagi kalau bukan ke pinggir jalan mengabsen mobil-mobil mewah yang berseliweran di jalan utama Jeddah. Saya segera menyusul sementara istri dan kedua anak gadisnya menemani si nenek (ini pun nenek yang bareng berangkat umroh) yang kecapekan, tetap duduk di dalam mall. Dan benar, Eldyn sudah mengabsen setidaknya 3 mobil mewah. “Kata Jeremy di Dubai atau Riyadh lebih mewah pa, tapi nggak papa, disini juga banyak yang lebih mewah dari Jakarta”, ucapnya menghibur diri karena tidak berhasil ke Dubai atau Riyadh, seperti dipromosikan salah satu dari 3 tokoh dalam serial Top Gear yang menjadi acara favoritnya di BBC Knowledge. Hampir 1 jam saya harus sabar berdiri nyandar di pembatas jalan di samping dia mengabsen mobil-mobil yang beseliweran di jalanan. Sampai akhirnya masuk lagi ke mall karena harus siap-siap shalat maghrib.

Ketika jarum jam menunjukkan angka 19.30, rombongan segera berangkat untuk makan malam dan menuju bandara. Dan benar bapak konsulat tadi, pesawat akhirnya take off pukul 03.30, berarti pukul 16 baru keluar dari bandara Cengkareng. Wuih, perjalanan panjang dan sepertinya akan melelehkan. Tapi ternyata anak-anak nyenyak saja di pesawat setelah menyantap omelet dan sosis lengkap dengan ubo rampenya, menu sarapan di pagi buta. Saya sendiri sempat tertidur 4 jam sebelum dibangunkan untuk makan siang. Menyantap nasi kebuli.

“Selamat datang kembali ke tanah air pak”, sambutan ramah pak sopir yang menjemput kami, begitu kami dengan mata setengah melek dan badan sudah tidak bisa tegak lagi, keluar dari pintu bandara. Setelah badan menyatu dengan jok mobil, segera kami telepon ibu di Solo sesuai janji saya sebelum boarding, untuk memastikan anak cucunya sudah kembali ke tanah air dengan selamat. Setelah berbasa basi sambil menanti kantuk datang, tanpa saya sadari tertidur sampai di depan rumah.

“Oh, my lovely home, I miss you….”, serentak kedua anak gadis saya menyerbu masuk rumah karena sudah kangen dengan suasana rumah. Hampir bersamaan pesanan mie ayam jamur kesukaan anak-anak diantar. Alhamdulillah kembali perut diisi dengan makanan khas tanah air.

Sebelum tidur, saya masih sempat ngunandiko, “Bapak A dan istrinya yang tiap tahun berhaji plus & umroh itu apa ya masih merasakan sakralnya Ka’bah ya? Apalagi tadi di Jeddah seolah jadi tuan rumah saking akrabnya dengan si Ali & para pemilik toko di Jeddah”. “Hush! Jangan menilai orang lain!, nilai dirimu sendiri!”, kaget dan hilang ngantuk saya mendengar jawaban keras dari dalam diri saya sendiri.

Semoga semua mabrur dan maqbul, amien.

Cikarang, Ahad 4 April 2010

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Theme: Shocking Blue Green. Blog at WordPress.com.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.