Ibnu Qosim – Mencoba ngga BINUN

6 April 2010

Menangis

Filed under: Tidak terkategori — aikyu @ 15:49

Ketika di Vietnam untuk tugas kantor, seperti biasa saya paling senang melihat tayangan NHK Jepang, ketika hampir semua channel menayangkan acara yang tidak bisa saya ikuti bahasanya. Pagi itu, sambil saya bersiap-siap ke tempat kerja melihat acara yang berjudul “Menangis”. Agak aneh memang, karena itu acara talkshow yang menampilkan beberapa nara sumber dari berbagai negara di luar Jepang, tapi membahas sesuatu yang “terlalu” ringan. Tapi menarik juga untuk mencoba mengetahui pandangan orang dari berbagai negara tentang menangis ini.

Beberapa nara sumber sepertinya setuju semua bahwa air mata adalah ungkapan emosi seseorang, terlepas dari trigger dari emosi itu, bisa menyenangkan bisa menyedihkan. Bahkan sumber trigger itu bisa bermacam-macam. Salah satu peserta mengungkapkan bagaimana surat dari ibunya selalu disambut dengan air mata haru, atau peserta lain menangis tersedu-sedu ketika menonton film Titanic dan mendengarkan musik tertentu.

Salah satu peserta seorang perempuan dari Amerika ternyata tidak setuju dengan laki-laki yang mengalirkan air mata, apapun alasannya, karena terlihat cengeng. Hm… betul kah seseorang yang mengeluarkan air mata berarti cengeng?

Saya termasuk orang yang sering mengeluarkan air mata, meskipun belum pernah merasa menjadi cengeng ketika itu. Termasuk ketika saya tidak bisa menahan air mata saat mengikuti sebuah pelatihan yang melibatkan emosi, dan di akhir sesi pada hari terakhir mendatangkan orang yang paling dicintai, dan saya menghadirkan keluarga, saya, anak dan istri saya. Saat itu anak laki-laki saya berterus terang dengan polosnya, “Baru kali ini aku ngelihat papa nangis”.

Itu kejadian dua setengah tahun yang lalu. Kejadian anak laki-laki saya melihat saya menangis kembali terjadi ketika di masjid Nabawi. Setelah berdo’a di Raudhah, saya ajak anak laki-laki saya yang sudah kelas 1 SMP, menuju makam Rasulullah SAW, setelah sampai di depan makam manusia agung tersebut saya beri komando ke anak saya yang tidak berhasil melihat karena postur tubunya yang kalah tinggi dari jama’ah lain, untuk memberi salam dan membaca shalawat. Saat itu lah saya tidak berhasil menahan emosi, dan itu dilihat anak saya.

Ketika keluar dari masjid Nabawi melalui pintu Baqi, anak saya penasaran dengan tangisan saya tadi. “Papa kenapa tadi nangis, pa? Aku jadi ikut-ikutan nangis tadi”, tanyanya masih penasaran melihat papanya yang seharusnya tegar tapi ternyata menangis. “Papa setiap ke makam Rasulullah SAW selalu ingat perjuangan dan kesabaran beliau ketika ke Thaif untuk mencari dukungan dan perlindungan dari penduduk Mekah yang terus menerus menekan dan menyiksa kaum muslimin yang saat itu masih sedikit”. Jawab saya sambil masih menyeka air mata. Kemudian saya pandang matanya yang juga masih agak memerah. “Papa sering mengeluh ketika sedikit saja merasa capek dengan perjuangan papa mengajak orang berbuat baik atau ditolak ajakan itu, padahal Rasulullah bahkan mau dibantu malaikat gunung untuk menghancurkan penduduk Thaif yang menyakiti beliau saja masih menolak dan bahkan mengadukan kelemahannya dan ketidakmampuannya kepada Allah SWT serta mendoakan kebaikan anak keturunan penduduk Thaif yang menganiaya dan mengusirnya”.

Sambil pulang menuju hotel berjalan mengelilingi masjid Nabawi saya tambahkan, “Papa malu dan sedih kalau ingat itu semua”. “O… gitu ya…”, jawabnya datar. Saya tidak melanjutkan diskusi tersebut untuk sesaat demi menjaga emosinya. Eh, lha kok tiba-tiba dia sudah berubah pandangan. “Pa lihat itu payungnya gerak mau nutup. Tunggu bentar. Wuih hebat, rapi banget!”, teriaknya ketika melihat payung-payung raksasa yang dikontrol oleh komputer untuk membuka dan menutupnya, yang mulai menutupi hampir seluruh halaman masjid Nabawi.

Kalau melihat dan mendengar mamanya menangis, sudah terlalu sering anak-anak saya. Hampir setiap pagi ketika mereka bangun menjelang subuh, selalu menjumpai mamanya sesenggukan di mushola. Saya pun seandainya istri menangis bukan karena Allah SWT sudah bosan kali. Maafkan aku istriku…. Karena sudah terlalu sering itu, anak-anak tidak pernah menanyakan lagi. Tapi ini bapaknya yang badannya kelihatan guede (nggak enak dibilang gemuk), lha kok nangis juga.

Maka ketika lain waktu saya ajak anak saya berlama-lama berdo’a di Raudhah sambil tak henti-hentinya mengusap air mata, maka dia pun sudah bisa menikmatinya. Juga setiap selesai thawaf, shalat di belakang maqam Ibrahim maupun di Hijir Ismail, dia sudah bisa mengikuti emosinya sendiri. Artinya menikmati suasana dan ikut hanyut dengan perasaannya sendiri.

Sesampai di tanah air, ketika mengantar pesanan obat yang khusus dibeli di tanah Haram ke rumah salah satu ustad, maka cerita itupun mengalir begitu saja. Di luar dugaan, sang ustad menanggapinya dengan sangat serius, bahkan menatap tajam mata saya, seolah ingin mengatakan, “Perhatikan kata-kata saya pak Ibnu!”. Sang ustad dengan penuh emosi menceritakan betapa bahagianya ketika masa kecil sering melihat ayahnya menangis di dalam shalat dan do’anya. Kebahagiaan yang timbul akibat perasaan bahwa dibalik sosok tegar yang dikaguminya, ayahnya begitu serius dan takutnya kepada Allah SWT. Kekaguman itu yang banyak beliau tuangkan dalam buku karyanya yang sudah saya baca lebih dari sekali. Bahkan karena senangnya kami dengan isi buku itu, kami hadiahkan kepada saudara-saudara kami ketika ada acara pertemuan keluarga besar kami di rumah beberapa bulan yang lalu.

“Pak Ibnu, yakinlah, Eldyn akan selalu ingat masa-masa mendampingi pak Ibnu saat penuh emosi itu, seperti saya yang tidak ingin melupakan suasana indah saat bersama ayah saya saat itu”, cerita beliau dengan yakin dan penuh emosi. “Seorang anak yang melihat ayahnya menangis dalam do’anya adalah saat pengajaran kepada si anak bahwa kekuatan kita terbatasi oleh kekuatan yang Maha Dahsyat, kita ini terlalu lemah di hadapanNya, sehingga kita perlu dan harus menangis. Bukan karena cengeng tapi justru kita mengakui kekuatanNya”. Tambahnya.

“Saya tahu persis, ayah saya seorang pekerja keras, tokoh yang sangat disegani di kalangan orang-orang ahli beladiri pada masanya. Tapi ternyata beliau merasa dan saya melihatnya sangat lemah di hadapanNya. Saya sangat mengagumi itu, dan sekarang saya merasakan apa yang beliau rasa saat itu”. Pesannya itu terus terang membuat saya malam itu merasa adem di ruang keluarga beliau yang memang adem itu.

Tadi selepas maghrib, seperti biasa, kami tadarusan. Hanya sudah beberapa bulan ini kami tidak bisa mengajak si bungsu ikut tadarusan, karena sejak tinggal bersama budenya maka hari Minggu pagi adalah saat jalan-jalan di taman kota sekaligus mengantar si bungsu kembali ke “kos”.

Selesai tadarusan sambil pada tiduran di pangkuan sebelah kanan dan kiri kaki saya, tiba-tiba pembicaraan mengalir begitu saja mengenai tangisan dan kejujuran. “Insyaallah air mata papa karena takut pada Allah SWT akan melindungi papa dan kita dari jilatan api neraka”, komentar istri saya ketika mendengar Eldyn menceritakan saya menangis, yang segera disambut “Amien” dari kami semua. Eh, tiba-tiba si kecil yang tahun ini masuk SMP bercerita terus terang, “Dulu sering kalau disuruh shalat mama aku hanya mengacak-acak mukena, diam sebentar terus melipat lagi mukena, kalau ditanya mama jawabnya udah shalat”. Istri yang menyadari ini sebuah karunia besar, mereka mau mengakui dosa mereka, hanya menimpali, “Mulai sekarang banyak-banyak istighfar. Besok nggak lagi kan ya?”.

Giliran kakaknya yang cowok bercerita. “Aku dulu waktu masih di Vila (Tambun) pernah ngambil uang mama untuk jajan, juga ngambil uang FEDUs yang di kotak itu. Tapi nggak ingat berapa”.

Untuk mendukung suasana santai itu, saya menahan dengan sekuat tenaga emosi yang hampir meledak dari dalam dada saya. Lagi-lagi istri menasehati supaya memperbanyak istighfar dan mulai mengisi kotak amal yang kami siapkan di rumah kami untuk secara berkala kami kirimkan ke FEDUs.

Ah, bahagia rasanya dikaruniai kemampuan menangis. Malam itu gerismis kecil di luar, gerimis pula dalam hati saya. Segera saya SMS si bungsu mengingatkan shalat.

Cikarang, Ahad 4 April 2010

Advertisement

1 Comment »

  1. Alhamdulillah… ikut merasakan kebahagiaan apabila saudara sesama muslim dikaruniai menangis karena di depan Allah SWt. memang benar ternyata, menangis membuat sesama manusia tidak selamanya menyambut iba, tetapi pandangan bosan, tetapi saya bersyukur Allah tidak pernah bosan menunggu hambanya menangis, baik diwaktu malam atausiang, disaat tidur, berdiri dan berjalan. maka, kalo boleh dan saya yakin boleh, saya selalu menangis kepadaMu ya Allah… karena makhlukMu tidak akan pernah mengerti tangisanku kepadaMu. seanadainya mereka tau,: betapa sedih hati ini jika suatu malam tangisan itu hilang, hingga teringat, aku pernah merasakan kekuatanMu yang tidak pernah bisa aku ceritakan, saat begitu dekat, dekapan manusia tidak mengurangi sedikitpun ketakutanku saat itu, selimut tebal tidak mengurangi sedikitpun dingin hatiku, Ya Allah aku begitu takut saat itu…. dan setiap malam tiba saat aku Kau ijinkan bersujud rasa itu datang…, aku takut pada saat yg sunyi Kau memanggilku dan aku belum menunaikan semua amanahMu, belum Kau terima taubatku, aku yang penuh maksiat, berbuat dlolim, malas,….. pd saat dahiku menempel di bumiMu, aku takut Kau meninggalkanku, pada saat aku Kau panggil masih ada hutang yang belum terbayar….sementara ibadahku yang pas2an belum tidak akan pernah bisa membayar hutang dunia, aku tidak bisa membayangkan kalo anak2ku menuntut ke neraka sementara aku sudah merasa mengajak beribadah, ya.. Allah ketakutanku sepanjang malam tidak pernah berbalas hanya dengan menempelkan dahiku di sajadah di depanku. aku hanya merasa tenang setelah dengan air mata itu merasa ada tanganMu yang membelai lembut hatiku, senyum yang mambasahi hatiku, menenangkan.., memberi aku kesempatan untuk menjalankan amanah2MU, bertobat, bukan jaminan tapi memberi kesempatan sekali lagi…. Ya Allah Kau maha Pengampun, rahmatMu lah yang kami harapkan. ijinkan aku ya Allah untuk menjadi hambaMu mencintaiMu dan yang Kaucintai, cukup bagiku Engkau yang akan membuatku bahagia, yang akan mengijinkan aku menjalankan segala amanahMu, dengan tanganMu, makhluqMu dan lewat segala amanahMu, suami dan anak2ku,dan segala yang ada dlm rumah maupun diluar rumah.

    wallahua’lam…
    astaghfirullahal’adzim

    semoga tidak menyinggung siapapun sekedar ungkapan hati yang selalu dalam kegelisahan akhir hayat.

    Comment by hs — 7 April 2010 @ 11:29


RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Theme: Shocking Blue Green. Blog at WordPress.com.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.