Tanggal 8 Januari adalah tanggal saya dilahirkan ibu saya ke dunia ini. Sebenarnya sih bukan tanggal 8 Januari, dan ini yang bikin istri sewot awalnya, karena sekian tahun ngasih selamat tanggal 8, eh bukan. Tapi sebenarnya tanggal 7 Januari persis sesudah maghrib. Menurut perhitungan kalender Jawa, yang sebenarnya adopsi dari kalender Hijriyah, maka jam segitu sudah masuk tanggal hari berikutnya. Jadilah ulang tahun saya secara de jure seperti di akte kelahiran, tanggal 8 Januari.
Ketika kecil kebiasaan di kampung saya adalah bancaan dengan memanggil anak-anak sebaya di sekitar rumah ketika anaknya ulang tahun. Saya sendiri tidak ingat persis apakah ibu saya juga membuat bancaan waktu itu. Seingat saya, saya beberapa kali ikut bancaan teman sebaya, tapi tidak pernah mengundang teman-teman main saya untuk makan bancaan di rumah. Mungkin ketika saya kecil ya, ada, tapi saya tidak ingat persis.
Bancaan ulang tahun ala kampung sebenarnya sangat sederhana. Nasi plus gudangan (urap) ditambah ikan asin kecil-kecil digoreng tepung, kalo di keluarga berada, plus telor rebus diiris 8 atau 16 bagian, sangat sporadis. Tapi apa yang lebih nikmat bagi dunia anak kecuali makan makanan istimewa yang lain dari keseharian bersama teman-teman mainnya?
Tentang bancaan ini saya ingat tulisan cak Nun (Emha Ainun Najib), bahwa bancaan bukan sekedar hura-hura menghabur-hamburkan uang pamer kepada tetangga seperti tren ulang tahun anak-anak kota sekarang ini, tetapi wujud dari rasa syukur orang tua bahwa si anak sehat, tambah besar dan sekaligus pengakuan eksistensi si anak dari orang tuanya. Jadi kalau ada bancaan, maka sebenarnya si ibu pengin menunjukkan bahwa anaknya ada dan diakui keberadaannya.
Lha kalau pesta ulang tahun anak-anak sekarang ini? Mungkin juga pengakuan keberadaan anak di tengah keluarga, teman-temannya dan di dunia ini, sih.
Karena kebiasaan di rumah yang tidak memperingati ulang tahun, maka remaja saya juga tidak diwarnai dengan peringatan tanggal keramat tersebut. Tanggal 8 Januari selalu lewat begitu saja, tanpa ini itu, dan juga tanpa penyesalan dari saya karena tidak ada ini itu. Seingat saya, saya merasakan diberi selamat ulang tahun ya ketika sudah punya pacar, ya pacar abadi saya sekarang ini. Juga ketika kuliah, mendapat ucapan selamat dan hadiah (tapi lupa apa ya hadiahnya?) dari orang tau angkat saya semasa di rantau. Oh ya, sekali waktu juga pernah ditraktir orang tua angkat saya sekeluarga ini makan malam ketika ulang tahun saya. Waktu itu makan spageti dengan topping seafood. Aneh rasanya waktu itu, topping spageti kok seafood. Tapi itulah satu-satunya makanan yang aman (halal) untuk dikonsumsi. Masak iya roti tawar diolesi selai lagi, apa bedanya sama sarapan?.
Nah, Jum’at kemarin kembali tanggal keramat itu sampai juga di hadapan langkah kaki saya yang mulai gruwalan menapaki jalan kehidupan yang rasanya makin lapang tapi penuh kegamangan. Karena faktu “U”, kata teman-teman edan di milist. Umur, Uban, Untung-untungan.
Pagi bangun tidur sudah ada SMS dari si bontot yang ikut budenya di Jakarta, “Pa, selamat ulang tahun ya. Semoga papa tetap menjadi the best father in the world ever”. Hm… anak satu ini paling pinter yang beginian. Mudah-mudahan do’a dan ungakapn ketulusan dari seorang anak. “Amien…” suara istri ketika saya bacakan SMS tersebut ke istri. Kebiasaan kami untuk menyampaian do’a meskipun lewat SMS, hanya untuk di-amin-kan yang lain.
Hari itu, sore harinya kami sekeluarga masak spageti, kali ini topping-nya sangat manusiawi, daging cincang. Kalau urusan seperti ini, maka seisi rumah akan terlibat dengan tugas masing-masing, semua tumplek blek di dapur. Peralatan-peralatan dapur yang jarang terlihat pun hari itu akan menunjukkan performanya. “Wuih…canggih ya?, sini aku yang mencet, pa”, teriak si bontot yang baru kali ini melihat alat penghancur/penggiling daging, dan langsung memencet tombol, zwiiiinkkkkkk….. dalam 5 detik lumatlah daging itu menjadi daging cincang siap masak.
Si kakak, cowok cute kelas 1 SMP yang mulai jengah karena jadi incaran cewek-cewek di sekolahnya (perasaan saya dulu nggak begitu-begitu amat, tapi, ya ngga tahu juga ya), mendapat jatah membuat teh. Saya sendiri hanya bantu-bantu sekedarnya dengan perintah ini dan itu. Wong saya yang ulang tahun!
Istri agak sewot hari itu, karena tidak bisa melakukan banyak untuk hari istimewa saya. Bahkan sampai malam, ketika kami pulang mengantar anak ngaji, masih banyak mendung di dalam rumah. Ah, seandainya kau tahu istriku, bahwa aku tidak menuntut yang macam-macam, aku hanya ingin hati ini tenang. 41 tahun sudah dunia mendidikku, tapi entah kenapa masih belum muncul keberanian untuk menghadapi hidup. Entah kenapa masih sedikit sekali yang aku persiapkan untuk kehidupan abadiku. Aku belum menjadi siapa-siapa di hadapan Tuhanku. Nek tiba-tiba game over, apa yang bisa aku pamerkan padaNya?
Kegelisahan yang mulai terasa 2 tahun yang lalu, hari itu benar-benar membuat saya gelisah sekaligus uring-uringan, ini juga yang membuat istri tambah mumet. Malam itu, sepulang kami dari masjid mengantar anak ngaji ke ustad, kami nonton TV berempat. Tetapi karena akhirnya gantian TV yang menonton kami, maka hari itu saya tutup dengan ucapan terimakasih sekali lagi atas usaha maksimal istri dan anak-anak untuk hari istimewa saya.
Sebenarnya kami tidak pernah merayakan hari ulang tahun. Kami hanya saling memberi selamat atas apa yang kami capai selama ini, atas kepercayaan Allah SWT kepada kami, dilanjutkan dengan do’a bersama setelah shalat khusus untuk yang hari itu berulang tahun. Meskipun kadang kami sengaja membuat lelucon dengan menyalakan lilin bekas dinyalakan ketika lampu mati, nyenthir 1 biji di tengah meja makan dengan dikelilingi anak istri menghadapi teh dan makanan apa adanya.
Sabtu-Minggu tgl 9-10 sesuai pesanan UPTD kabupaten Bekasi, istri harus mengajar guru-guru PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) untuk membuat kurikulum sekolah, saya sendiri hari Sabtu harus mempersiapkan lokasi ngajar, langsung mengambil rapot si sulung ke Jakarta, siangnya harus kembali ke lokasi ngajar istri untuk beres-beres. Oh iya, sebelum mengajar istri juga harus mengambil rapot anak tengah kami. Benar-benar pontang-panting untuk sekedar mengais ridlo Allah SWT. Minggunya istri masih mengajar di lokasi yang sama, sementara saya setelah mempersiapkan lokasi ngajar, langsung ke FEDUs, dan menghadiri undangan tabligh akbar seorang ustad, seorang sahabat yang menyempatkan mengundang kami, baru siangnya kembali ke lokasi lagi untuk beres-beres lokasi. Selesai mengajar, kelihatan sekali istri kehabisan tenaga. Tapi pengurasan energi kami belum selesai, kami sudah berniat membantu 2 dokter teman istri yang hari itu akan memberikan pemeriksaan dan pengobatan gratis kepada 40 anak yatim di sebuah panti asuhan milik seorang ustad, guru dan sahabat kami. Sebelum ke lokasi kami sempatkan mampir ke sebuah pusat perbelanjaan untuk sekedar nyruput coklat panas untuk menambah tenaga, sambil ngobrol santai menunggu teman dokter yang masih on the way. “Sesekali enak juga ya santai gini”, gumam saya sambil nyender lemes di kursi.
Alhamdulillah acara di panti asuhan tersebut lancar. Ba’da maghrib, barulah kami berkemas meninggalkan panti asuhan dan pulang ke rumah dengan badan kriyet-kriyet tidak karuan bunyinya, namun hati bagai disiram gerimis. Meskipun masih menyisakan satu ganjalan besar di hati. “Ternyata apa yang kita lakukan selama ini belum ada apa-apanya dibanding ustad dan ummi ya pa?”, bisik istri setelah menelpon anak-anak di rumah memberitahu bahwa kami dalam perjalanan pulang, sambil memaksakan kelopak mata terbuka. Ya, kami sering merasa capek dan bosan dengan masalah dan perjuangan kami, tapi setiap kami bertemu orang-orang hebat, selalu kami harus membuang jauh-jauh perasaan capek itu. Karena ternyata mereka sudah memikul beban yang jauh lebih berat dari kami.
Sesampai di rumah, ternyata kami masih harus belanja bulanan. Hm… kalau boleh memilih, maka malam itu pengin rasanya kami mengambil tongkat sulap kami, dengan sim sala bim semua yang kami perlukan hadir di rumah kami. Tapi hidup dalah perjuangan. Berjuang untuk Allah, manusia, lingkungan, keluarga dan diri sendiri.
Tadi iseng buka e-mail, wow, buanyak notifikasi ucapan selamat dari teman-teman. Karena pontang-panting nggak karuan plus memang jarang FB-an, jadi terlewat. Dan maafkan teman-teman, saya sampai hari ini belum sempat membaca postingan di FB.
Saya tidak tahu karena memang tidak pernah menanyakan, apakah orang tua saya juga binun seperti saya ketika masuk usia 40? Tapi harus saya akui, istri saya sangat bijak menasehati saya untuk tidak egois memikirkan angka-angka itu. Just do the things you’re supposed to do, lakukan aja yang memang seharusnya kamu lakukan. Simpel mengena, touche’ (kena lu!) kata bule perancis.
Cikarang, 11 Januari 2010
Wassalam