Sudah sejak menulis terakhir 2 Oktober tahun lalu, tentang “Kupat Tahu Pojok Pasar”, rasanya banyak yang ingin ditulis. Tapi kok ya ada saja alasan (terlalu menuduh keadaan kalau disebut halangan), sehingga semua hilang di angan-angan. Bahkan banyak yang belum sempat saya obrolkan dan ceritakan ke istri dan anak-anak tentang angan-angan dan ide-ide di kepala saya untuk di tulis.
Kebiasaan ngalong yang selama ini saya isi dengan nulis, akhir-akhir ini banyak saya lakukan untuk keperluan Lembaga FEDUs. Atau kalau pun tidak ada yang harus dilakukan untuk FEDUs, maka saya akan banyak baca buku setelah ngobrol dengan anak dan istri.
Oh ya, juga menambah jam tidur, karena sejak 3 bulan terakhir saya banyak diperbudak pekerjaan, sehingga pulang kerja sudah hampir lowbat. Maka charging-nya ya dengan segera tengkurap baca bacaan ringan pengiring ke alam bawah sadar.
Setelah menghabiskan liburan panjang akhir tahun, kemarin siang kami sempatkan bersilaturahim ke ustad kami di Buaran, Jakarta. Sebuah rumah 2 lantai yang asri, di pinggir persawahan dan beberapa kolam pemancingan (tapi kata ustad, bukan milik beliau). Ustad muda, bahkan kalau tidak salah lebih muda dari saya, tapi sudah beda jauh diatas saya maqom-nya, selalu enak diajak ngobrol dan pintar dalam menggiring kami menemukan kebenaran dan solusi sampai akhirnya mempersilakan kami menentukan pilihan atas kebenaran yang beliau paparkan. Beliau pula yang menjadi pembimbing kami ketika kami mengunjungi tanah tempat berkumpulnya jutaan umat dalam kepasrahan total.
Bahkan hari ini juga ada 2 ustad pembimbing senior yang kami kenal secara akrab dan seorang teman seperjuangan di tanah pencarian diri juga hadir belakangan di rumah beliau.
Obrolan di rumah tersebut berakhir jam 4-an karena kami harus mengantar anak sulung kami kembali ke tempat kos.
Dalam perjalanan ke tempat kos anak, istri mulai menginventarisir keperluan anak-anak selama awal sekolah. Akhirnya kami harus mampir ke sebuah supermarket di sebuah pusat perbelanjaan di daerah Jakarta Timur. Seperti pusat perbelanjaan pada umumnya, selalu dihiasi benda-benda mahal yang sebenarnya belum tentu kita butuhkan, ketika keluar rumah, namun tiba-tiba menjadi merasa perlu dan harus ada di rumah kita ketika pramuniaga mendemonstrasikan atau menawarkan kelebihan-kelebihan produk tersebut lengkap dengan diskon gila-gilaan-nya. Jadilah kita berpikir sejenak untuk menghitung kembali cadangan devisa di mesin ATM dan balance-sheet kebutuhan sampai akhir bulan. Kalau perlu kita paksakan menggesek uang plastik, sret!, jadilah kita manusia baru dengan peralatan yang kadang entah kapan kita memanfaatkannya.
Juga hiasan pusat perbelanjaan berupa bau-bauan, dari yang wangi adem sampai yang norak, dari yang membuat perut tiba-tiba menjadi lapar, padahal sebelum berangkat juga sudah makan, sampai yang membuat perut mual karena belum terbiasa dengan bau makanan asing tersebut.
Bahkan kami sendiri pun sempat menanyakan sebuah peralatan kesehatan yang ditawarkan seorang pramuniaga. Bukan kami perlu, tapi kami ingat cerita ibu yang memerlukan alat serupa. Tapi ketika kami mendengar harga yang ditawarkan, meskipun sudah didiskon sekian puluh persen, kami langsung menyingkir dengan sopan dan meyakinkan mas pramuniaga bahwa kami belum perlu saat ini. “Tinggal nyebutin angka setelah diskon aja kok susah banget, berapa lama ya pa ngapalin angka-angka itu”. Komentar anak tengah saya ketika mendengar mas pramuniaga menyebutkan angka sebelum diskon, angka diskon (dalam % dan rupiah lagi), dan angka setelah diskon. Saya sendiri tidak ingat diskonnya berapa, tapi yang nempel di kepala adalah angka terakhir yang membuat kami terbelalak, namun demi menjaga gengsi di depan mas pramuniaga, tetap mencoba tersenyum dan manggut-manggut wibawa. Seperti biasa dalam kondisi seperti ini kalau untuk keperluan ibu, istri langsung menghitung cepat dan mengabsen siapa sodara yang bisa direkrut, diajak urunan untuk membelikan keperluan ibu. Kesimpulannya, akhir bulan bismillah.
Akhinya sampailah kami di pusat belanja sehari-hari, dan langsung menyebar menuju lokasi sesuai kebutuhan masing-masing. Saya sendiri, sesuai tugas harian saya, memilih apa yang harus saya siapkan untuk bekal anak-anak sekolah setiap paginya. Apalagi kalau bukan roti tawar plus hiasannya. Cuman, hanya itu saja thok, cukup. Sedangkan si sulung, kesempatan seperti ini adalah kesempatan emas untuk “manfaatin” mamanya. Ditraktir kebutuhan selama seminggu di kos. Karena setelah ini harus kelur modal sendiri untuk membeli kebutuhan suplemennya.
Si bontot juga ikut-ikutan mbaknya, nyari kebutuhan yang aneh dan mahal kayak di TV, meskipun masih 100% disubsidi, tapi tetap, ini kesempatan harus dimanfaatin.
Si anak tengah, cowok satu ini sudah mewarisi bakat alami laki-laki pada umunya, nggak betah kalau nunggin mamanya dan sodara perempuannya belanja. Maka sebelum kami masuk toko dia sudah bisik-bisik ke telinga saya, “Pa, ke toko buku di atas ya”, sambil lari menunjukkan HP di tangannya. Maksudnya kalau sudah selesai telpon gue ye!. Saya sendiri lupa bahwa di atas ada toko buku.
Ketika akan membayar belanjaan di kasir, istri berbisik bahwa tadi ke ATM tidak berhasil mengambil uang karena mesin ATM-nya sedang out of service, jadi harus gesek kartu ATM saya. Ya wis apa boleh buat, saya pun mengiyakan, toh uang di ATM saya sebenarnya uang istri. Yang membuat saya kurang sreg adalah menggunakan uang plastik ini. Ketika orang yang antri di depan membayar dengan kartu kredit maka si mbak kasir meminta ijin ke orang yang belanja tersebut untuk mengikhlaskan uang 80 rupiah untuk disumbangkan ke kotak amal yang tersedia di toko tersebut, dengan alasan pembulatan. “Wow…what a wonderful service!” bisik saya dalam hati.
Dan ketika kami membayar, sekali lagi mbak kasir meminta ijin ke kami untuk membulatkan nilai belanjaan dengan mengikhlaskan uang 20 rupiah. Saya jawab dengan antusias “Silakan mbak!”.
Ketika akan mengetik PIN kartu ATM, saya melihat ada tulisan spidol diatas display total belanjaan, “Donasi terkumpul hingga 2 Januari 2010 : 27.xxx.xxx (dua puluh tujuh juta sekian)”.
Wow…! Istri saya yang dari tadi memperhatikan barang belanjaan segera berbisik, “kalau caranya transparan dan minta ijin seperti ini mama yakin semua orang akan ikhlas”.
Secepat kilat ingatan saya masuk mesin waktu ke toko dengan nama sama beberapa tahun yang lalu di tempat yang berbeda. Saat itu istri sempat sewot karena mendapat kembalian permen karena tidak ada uang receh dan istri juga kehabisan uang receh. Bahkan kejadian mendapat kembalian permen tersebut terus terulang dan terulang kembali. Bahkan yang lebih parah sepertinya menjadi sebuah trend. Maka setiap kali total nilai belanjaan terpampang, kami serahkan uang, telunjuk mbak kasir memencet tombol enter, laci mesin kasir terbuka, maka yang pertama menjadi perhatian kami adalah “adakah permen murahan di laci kasir tersebut?” adalah SOP (Standard Operation Procedures) baku. Kalau ada maka istri segera mencari cadangan uang receh di tas dan sebelum kasir menanyakan uang receh ke kami, istri sudah menyerahkan ke kasir, daripada sebuah atau beberapa permen disodorkan paksa ke kami. Kalau saya yang kurang telaten mengoleksi uang receh, belanja sendiri, bila menerima permen segera saya kembalikan dan bilang, “saya ikhlaskan untuk infak, tolong disampaikan kepada yang berhak”. Selesai. Kalau tidak sampi kepada yang berhak? Itu urusan dia atau bos dia dengan Allah SWT, karena secara sistem seharusnya bisa.
Jam 5.15 sore kami keluar pusat perbelanjaan. Seperti biasa, di mobil masing-masing menginventarisir belanjaan yang saya kurang perhatikan. Sedangkan si tengah yang bertukar tempat dengan istri jadi co-pilot, yang ketika keluar pusat perbelanjaan dengan tangan kosong langsung nyerocos, bercerita bahwa tadi menemukan buku tentang makhluk dalam mitos di seluruh dunia, bagus, tapi tidak bisa dibeli. “Sayang harganya hampir 50 ribu, berkurang dong tabunganku”, keluhnya, mengingat uang hasil dia servis 2 komputer masih jauh untuk bisa membeli komputer baru idamannya.
Malam hari lewat jam 21.30 dengan mata tinggal melek sebelah ketika sampai di rumah, sambil tengkurap membaca buku bacaan ringan pengantar tidur, saya masih sempat merewind memori saya ke 17 tahun yang lalu, ketika kembali ke tanah air, saya sampai pulang ke Indonesia masih membawa koleksi receh uang Yen. Waktu itu saya belum mampu berpikir efek jangka panjang dari tidak diterima dan tidak adanya cadangan uang receh bagi keberadaan sebuah bangsa.
Ketika uang receh sudah tidak dipergunakan dalam transaksi, maka nilai uang tersebut akan menyusut dan lama-lama akan hilang, karena memang tidak digunakan bertransaksi. Nilai sebuah barang pun akan dihargai diatas uang receh itu. Sehingga praktis uang receh itu tidak diproduksi lagi oleh bank. Sehingga ujung-ujungnya hanya uang besar dan uang giral (tagihan yang ada di bank umum, yang dapat digunakan sewaktu-waktu sebagai alat pembayaran-wikipedia) saja yang berlaku sebagai alat bayar. Hal yang sama akan terjadi ketika kita mengandalkan transaksi menggunakan uang plastik (kartu kredit, kartu debet dll), maka saat transaksi itu tidak ada lagi uang kembalian apalagi uang receh. Sehingga kejadian di Somalia (atau dimana ya, lupa saya) bisa terjadi disini, untuk membeli sepotong roti harus mendorong handlift untuk membawa uang milyaran. Andil uang receh bisa sampai sebesar itu. Tentu saja faktor lain semisal inflasi dan devaluasi lebih dominan.
Sampai beberapa minggu yang lalu saya selalu menempatkan uang receh di kompartemen dekat dashboard mobil. Tujuannya supaya mudah bagi saya kalau ada pak ogah, pengamen atau peminta-minta meminta upah jasa mereka. Tapi kebiasaan itu berubah, bukan karena larangan pemerintah untuk tidak memberi uang ke pengemis meskipun tanpa solusi yang lebih cerdas, tapi di keluarga kami sudah tersedia kotak bertuliskan “Ultimate Proposal” di samping TV yang siap menampung setiap receh yang kami terima. Apa itu kotak “Ultimate Proposal”? top secret!
Cikarang, 4 Januari 2010
Wassalam