Ibnu Qosim – Mencoba ngga BINUN

5 October 2009

Tahu Kupat Pojok Pasar

Filed under: Tidak terkategori — aikyu @ 14:25

Orang tua saya, khususnya ibu saya termasuk orang tua kolot yang sedang tergeser ke zona moderen. Diantara kekolotan yang juga menjadi berkah bagi kami anak-anaknya ataupun anak orang lain yang berinteraksi dengan beliau adalah, kalau datang ke rumah ibu HARUS makan. Efek serius dari prinsip ini adalah, kami dilarang jajan, makan di luar rumah. Kalaupun kami ngeyel tetap makan di luar, maka sepulangnya kami akan mendapat kuliah singkat, padat, berisi, seperti ketupat, “wong neng ngomah akeh panganan, kok trimo jajan panganan pasar ra ono gizine koyo ngono, akeh micine maneh (di rumah banyak makanan kok ya milih jajan makanan pasar gak ada gizinya gitu, banyak micinnya lagi)”. Maka kami anak beranak ini hanya akan menunduk culun dan menjawab “nggih mbah…”, tanpa berani menjawab lebih panjang lagi.

Tapi itu dulu, ketika anak-anak masih seuprit, ingusan, masih gampang sakit, dan yang jelas kami belum tahu treatment yang pas untuk beliau. Maka seiring berjalannya waktu, anak-anak sudah besar dan sudah sempurna sebagai omnivora, pemakan segala, bahkan tergolong pemamah biak, tukang ngemil, serta sudah klik dengan beliau, maka sekarang justru kami sangat enjoy dan dengan leluasa dan terbuka merutinkan jajan, makan di luar ini ketika mudik.

Kok bisa? Ini tips kecil bagi yang orang tuanya atau ibunya masih kolot dan over PD dengan masakannya, apalagi sampai melarang anak-anaknya yang sudah segede gajah jajan di luar, karena takut pileren. Pertama tanyakan apa makanan favorit beliau, baik ketika masih muda maupun sekarang, baik di sekitar rumah atau di manapun, dimana bisa menemukan makanan itu. Kemudian ajak beliau ke sana, katakan bahwa anak-anak dan cucu-cucu juga pengin ngrasain makanan yang kata mbahnya huebat itu. Mungkin awalnya susah tapi coba terus.

Begitu sudah menyantap, jangan lupa angkat ke-empat jempol, katakan makanan favorit nenek super duper luar biasa. Kalau perlu kita nambah 3 kali. Sambil setiap memasukkan makanan ke mulut tirukan ucapan tokoh kuliner kita, “mak nyus tenan!

Setelah itu, ajak ngobrol, heart to heart, katakan bahwa sebenarnya kita juga punya nostalgia, atau katakan bahwa anak-anak juga pengin kenal makanan asli daerah yang tidak mungkin ditemukan di rantau, dan kalau nenek yang masak nanti repot, dan nggak bisa ngobrol banyak sama anak atau main-main sama cucu. Kalau perlu setiap jajan di luar bawakan beberapa bungkus untuk beliau. Dijamin sukses kita jadi kuliner di kampung sendiri.

Nah kembali ke soal makanan. Salah satu jajanan favorit kami sekeluarga, kalau sedang di kampung saya, di Sambi, Boyolali, adalah tahu kupat di pojok pasar Sambi.

Sebenarnya tidak terlalu istimewa, “tahu kupat ki yo koyo ngono kuwi rasane (tahu kupat ya memang kayak gitu rasanya)”, komentar ibu saya kalau mendengar ocehan anak-anak yang begitu heboh bercerita dan bangga bisa menemukan makanan ndeso yang uenak dan super duper murah itu.

Ya, bagi kami yang tidak biasa jajan di rantau, makanan yang dijual di pinggir-pingir jalan adalah hasil masakan perantau yang jarang masak, disediakan untuk orang rantau yang kecapekan dan malas masak, bisa ditebak rasanya jug aasal-asalan, maka makanan asli masakan kampung adalah sebuah kenikmatan kuliner sejati.

Apalagi mas penjual tahu kupat di pojok pasar Sambi ini pinter bilingual, bahasa Indonesia dan Jawa maksudnya, sampai-sampai kalau kami harus merahasiakan percakapan kami maka kami kerepotan karena harus berbahasa Inggris. Wow!… luar biasa, di pasar Sambi yang baru 3 tahun terkahir terpancang 3 tower antena provider HP, sudah ada makluk rantau berbahasa Inggris!, lebay tenan!. Maka anak-anak sangat enjoy dengan keramahan khas orang kampung yang enak diajak ngobrol ini.

Cuman sering anak-anak kami sewot ketika minta teh misalnya, sudah belepotan sampai berbusa-busa ngomongnya menggunakan bahasa Jawa, eh, mas-nya menjawabnya menggunakan bahasa Indonesia. Gdubrak! Buyar deh nasionalisme lokal anak-anakku.

Sebenarnya benar kata ibu saya, makanan favorit kami ini biasa saja. Lha wong cuman ketupat segenggam tangan anak-anak 2 biji diiris, ditambah rajangan kubis dan toge sejumput, ditambah bakwan 2 biji dipotong kecik-kecil plus kacang goreng, disiram kuah agak manis dengan topping bawang goreng yang kadang gosong ditabur secara sporadis. Kalau suka ditambah gerusan cabe. Di meja juga hanya ada bakwan goreng dan tempe goreng. Minumnya juga teh atau es teh (kalau di Solo, namanya teh itu pasti manis, jangan salah) atau minuman jeruk peres.

Tapi entah kenapa rasanya jadi luar biasa. Kalau saya tidak sadar perut sudah single pack bin buncit, umur sudah masuk kategori tuwek, dan sebisa mungkin menghindari kritikan dari istri, maka saya akan nembah 1 piring lagi. Karena ya memang uenak.

Kalau dibilang makanan nostalgia waktu kecil, hm…. bukan juga. Karena, jangankan sewaktu kecil, lha wong sudah gede saja masih dilarang jajan diluar. Masa kecil saya termasuk sangat luar biasa. Boleh dibilang dalam seminggu bisa makan pagi nasi sekali saja sudah hebat. Makanan yang tersedia (bukan favorit lho!) saat itu adalah thiwul atau singkong atau uwi (ubi pendam yang digali setahun sekali hingga bisa sebesar 3 bola voli dan bisa untuk sarapan seminggu). Maka peristiwa paling saya ingat tentang makan pagi alias sarapan ini adalah tetangga saya yang juga pakde saya waktu itu sebelum ikut transmigrasi ke Sumatra, adalah seorang penjual kerupuk nyambi sebagai petani, yang selalu memberi makan sarapan anak-anaknya nasi putih yang dikepal dan dimakan di teras rumah dengan lauk krupuk, ya hanya krupuk tanpa asesoris lain. Tapi di mata saya waktu itu, nasi adalah makanan mewah, maka saya selalu perhatikan anak-anak pakde saya menikmati nasi putih dan kerupuk dari pojok teras rumah saya, sambil clegukan, kok enak banget mereka…..

Juga jajan adalah hal mewah hasil peras keringat sejak saya kelas 4 SD. Karena umur segitu saya sudah mulai berani mencuri-curi waktu untuk membantu tetangga kerja di sawah sepulang sekolah atau hari Minggu. Kerja seharian mendapat upah 25 rupiah (tahun 1979-an), cukup untuk jajan es lilin seminggu, tanpa jajanan lain, karena memang tidak ada. Atau membantu tetangga jualan es lilin, nanti dapat upah setengah bungkus es lilin. Itu pun kalau tidak ketahuan ibu. Kalau ketahuan?, wow! Anda pernah mendengar suara geledek di siang bolong? Kalau belum Anda tidak bisa membayangkannya.

Ketika SMP kelas tiga dan lanjut SMA barulah saya mengenal jajan yang sebenarnya. Jajan untuk menyambung hidup. Karena namanya anak kos, masak adalah sebuah ritual yang sangat mengganggu belajar (?), apalagi ketika bulan Ramadhan. Maka saya banyak mengandalkan angkringan (warung tenda dengan tempat makan dari angkring yang dipikul keliling) dekat kos. Ketika bangun sahur sudah hangudubilah malasnya, maka dengan mata masih separuh melek saya akan berjalan ke angkringan sambil ngitung recehan di kantong dan mulai membayangkan makanan apa yang bisa dibeli dengan recehan itu.

Maka ketika saya sudah berkeluarga, dan sudah cukup “kuat” untuk berwisata kuliner ala anak kos, angkringan adalah tangkringan yang wajib saya kenalkan ke anak-anak. Dan alhamulillah angkringan moderen dengan variasi makanan ala wong sugih, anak-anak sangat menikmati. Meskipun tetap saja menu-menunya adalah makanan rakyat. Sedangkan istri, karena termasuk keluarga besar dan masih sedikit berdarah biru meskipun biru muda yang sudah mulai memudar ke arah putih, eh merah, maka jajanan favorit adalah yang sedikit berkelas atau penjaja keliling ke rumah-rumah.

Ketika pagi-pagi menjamu teman yang baru datang dari Pati, Jawa Tengah, dalam touring tunggalnya ke Jogya transit di Solo, istri sempat tanya ke penjual “keu leker” di Lapangan Manahan Solo, tentang keberadaan makanan jadul ketika SD, yang namanya “ledre pisang”, dan luar biasa! Masih ada ternyata. Maka ketika anak-anak masih tertidur, saya dan istri sengaja “pacaran” berdua jalan pagi-pagi mencari bubur kesukaan istri sambil mencari sisik melik, mencari keberadaan makanan murah seharga 25 rupiah waktu itu. Setelah menyantap bubur plus sayur sambel goreng krecek plus telur rebus plus paha ayam, serta minum teh panas dari seberang jalan, maka sebelum pulang istri iseng menanyakan makanan masa kecil itu ke tukang becak dan tukang sapu yang sedang menunggu matahari nongol, ternyata makanan itu masih ada, tetapi mulai besok jualannya. Wah duh, padahal besok kami sudah harus merayap ke rantau lagi. Kecewa sih, padahal sudah siap pamer ke anak-anak dan ponakan-ponakan.

Istri berjanji untuk memperkenalkan makanan favorit masa susah itu ke saya dan anak-anak.

Ketika dalam perjalanan ke Bekasi, sebelum berangkat saya disuguhi ketupat dan opo ayam masakan ibu saya sendiri. Terus terang uenak. Tetapi satu kesalahan fatal terlanjur saya lakukan ketika makan itu. Saya mengatakan ke ibu saya bahwa masakan ibu saya uenak buanget. Tahu kenapa fatal? Dan tahu konsekuensinya? Ibu saya nggak bisa nggak memberi ke orang yang mengatakan bahwa makanan ataupun apapun itu enak atau bagus. Di rumah orang tua saya berlaku “kutukan”, barang yang ditunjuk atau dipuji akan jadi miliknya. Suwer, tentu saja kecuali kulkas, mesin cuci, telepon, lemari dan kasur. Sampai-sampai saudara-saudara istri kalau ke rumah orang tua saya tidak berani menunjuk atau memuji sesuatu, kalau memang tidak siap membawa pulang atau nggak enak dengan ibu saya.

Tapi ketika sampai di Jogjakarta alhamdulilah kakak mempersilakan kami mampir ke hotel tempatnya menginap, dan jadilah ketupat opor maha karya ibu saya menjadi menu makan di hotel tersebut.

Cikarang, 2 Oktober 2009

Wassalam

Advertisement

2 Comments »

  1. wah ini ada ada ja sich ……….
    masa kupat sich

    Comment by lawan.us — 5 October 2009 @ 15:20

  2. kupat (jawa)=ketupat, om

    Comment by aikyu — 6 October 2009 @ 07:43


RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Theme: Shocking Blue Green. Blog at WordPress.com.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.