Orang tua saya, khususnya ibu saya termasuk orang tua kolot yang sedang tergeser ke zona moderen. Diantara kekolotan yang juga menjadi berkah bagi kami anak-anaknya ataupun anak orang lain yang berinteraksi dengan beliau adalah, kalau datang ke rumah ibu HARUS makan. Efek serius dari prinsip ini adalah, kami dilarang jajan, makan di luar rumah. Kalaupun kami ngeyel tetap makan di luar, maka sepulangnya kami akan mendapat kuliah singkat, padat, berisi, seperti ketupat, “wong neng ngomah akeh panganan, kok trimo jajan panganan pasar ra ono gizine koyo ngono, akeh micine maneh (di rumah banyak makanan kok ya milih jajan makanan pasar gak ada gizinya gitu, banyak micinnya lagi)”. Maka kami anak beranak ini hanya akan menunduk culun dan menjawab “nggih mbah…”, tanpa berani menjawab lebih panjang lagi.
Tapi itu dulu, ketika anak-anak masih seuprit, ingusan, masih gampang sakit, dan yang jelas kami belum tahu treatment yang pas untuk beliau. Maka seiring berjalannya waktu, anak-anak sudah besar dan sudah sempurna sebagai omnivora, pemakan segala, bahkan tergolong pemamah biak, tukang ngemil, serta sudah klik dengan beliau, maka sekarang justru kami sangat enjoy dan dengan leluasa dan terbuka merutinkan jajan, makan di luar ini ketika mudik. (more…)