Ibnu Qosim – Mencoba ngga BINUN

2 September 2009

IQ 147

Filed under: Tidak terkategori — aikyu @ 09:16

Ya, saya sedang menulis tentang IQ-intelligence quotient, sebuah nilai yang sampai sekarang masih menjadi idaman setiap orang tua yang dengan ketar-ketir menunggu hasil test IQ anaknya di sekolah. Bahkan tidak sedikit orang tua yang urung menyekolahkan anaknya di sekolah ndeso yang tidak ada test IQ-nya. Meskipun sekarang sudah mulai terbukti bahwa sebenarnya bukan IQ-lah satu-satunya penentu kesuksesan seseorang di masa dewasa nanti. Tapi ya itulah, kelirumonologi yang banyak terjadi di masyarakat Indonesia.

Kalau menilik definisi IQ, yang mulai diperkenalkan oleh William Stern seorang psikolog dari Jerman, maka IQ sebenanya tidak lebih dari perbandingan usia psikologis dan usia kronologis, atau perbandingan antara usia kejiwaan dan usia sebenarnya (http://www.geocities.com/rnseitz/Definition_of_IQ.html). Jadi ketika usia anak 8 tahun dan ternyata usia kejiwaannya juga 8 tahun, maka IQ-nya 100. Cuman itu, ya benar, cuman itu. Lalu kenapa sering diributin ya?

Konsep ini mulai diperkenalkan Stern tahun 1911, kemudian mulai dimanfaatkan pada tahun 1912, dan menjadi satu-satunya alat ukur test bagi tentara-tentara yang direkrut pada perang dunia pertama.  Sejak saat itu, dan bahkan sampai sekarang kalau mau jujur, menjadi angka mati bagi orang tua yang maunya anaknya sejenius Einstein (dengan IQ antara 160-174, setara matematikawan Descartes) yang banyak konsepnya mendahului jamannya. Atau diakui seperti Marilyn vos Savant, manusia yang tercatat di Guinness Book of World Records sebagai manusia yang memiliki IQ 240 (http://en.wikipedia.org/wiki/Intelligence_quotient), sebuah angka yang oleh grup lawak Warkop sebagai IQ jongkok. Sebuah ungkapan komedi yang waktu itu menggelikan.

Maka, ketika Senin malam, saya pulang agak malam, Eldyn, anak laki-laki saya yang baru masuk SMP tahun ini, menyodorkan selembar sertifikat test IQ di sekolahnya, saya tertegun sejenak, karena disitu tertulis “IQ : 147″ (diatas jenius yang 130). Sebuah angka yang tidak saya kira sebelumnya. Meskipun saya dan istri sudah dari awal menyadari bahwa anak ini memiliki kelebihan (utilisasi otak kirinya) dibanding kakak dan adiknya yang banyak utilisasi otak kanannya, namun tentu saja tidak setinggi itu bayangan kami. Ketika saya beri ucapan selamat segera istri menimpali sambil mengingatkan kembali bahwa angka itu hanya menunjukkan POTENSI diri, bukan berarti itu sudah cukup tanpa usaha lain untuk suskes.

Dan alhamdulillah Eldyn bisa menerima itu. Karena memang setiap hari kami selalu mengindoktrinasi anak-anak kami supaya setiap hari tidak diniatkan sekolah, meskipun namanya ke sekolahan, tetapi mencari tahu, mencari ilmu. Dan kami tidak pernah mentargetkan angka-angka rapor maupun rangking. Jadi kami tidak pernah pusing dengan angka ranking 3 ataupun 27 ketika pembagian rapor mereka. Kami hanya concern pada meningkat atau menurunnya prestasi mereka, karena itu bisa menunjukkan keseriusan usaha mereka selama ini.

Setelah itu sekali lagi saya membacakan uraian nilai dan kelebihan serta kekurangan anak cowok kami. Menjelaskan seperlunya maksud dari kata-kata yang bahkan bagi kamipun memusingkan. Beberapa sesuai dengan keadaan yang kami amati, beberapa meleset atau bahkan berlawanan dengan yang berhasil kami amati, dan itupun dibantah oleh Eldyn, bisa saja kami salah. Tapi, yaitu, sekali lagi, angka 147 bagi kami bukan harga mati. Itu hanya menunjukkan bahwa ada potensi besar yang menuntut tanggung jawab kami untuk menggali dan mengoptimalkannya sehingga benar-benar kami termasuk hambaNya yang bersyukur.  Kami berencana membuat program pemantauan terhadap kekurangan dan me-mantain kelebihannya, baik yang kami rasakan maupun yang dirasakan oleh si anak.

Oh ya, flash back ke 8 tahun yang lalu, ketika itu anak kami ini mau masuk TK-B di lingkungan sekolah yang dia nikmati hingga kelas 6 SD. Ketika akan tes masuk TK-B, anak saya ini lebih asik bermain dengan katak dan belalang yang waktu itu banyak ditemukan di kebun TK itu. Beberapa kali ibu guru harus bersabar memanggilnya supaya masuk kelas untuk dites. Kejadian “bermain” dengan binatang ini berlanjut hingga kelas 2 SD. Setiap jam pelajaran, sementara guru menjelaskan pelajaran dan murid lain serius menyimak, dia selalu melihat keluar jendela untuk mencari “cekibar“, binatang mirip cicak yang memiliki sirip kuning di leher dan hidup di batang-batang tanaman, dan tidak jarang dia berteriak sehingga mengagetkan guru dan teman-temannya ketika dia berhasil melihat binatang tersebut. Sehingga kami harus membuat perjanjian tidak tertulis dengan wali kelasnya bahwa kami akan memperbaiki cara belajarnya nanti bila sudah waktunya.

Ketika naik kelas 3, dengan rangking tidak pernah lebih baik dari 23, maka sekali lagi kami diminta oleh guru kelasnya untuk membuat komitmen. Untuk itu anak ini kami “sidang”, memilih mencari ilmu dengan serius atau mencari cekibar dan main bola sehingga kecapekan dan ketika belajar tertidur. Alhamdulillah dia sudah cukup puas dengan “petualangan dan pengamatan” dia selama ini. Sehingga ketika pembagian rapor kelas 3 petingkatnya naik dari 27 menjadi 3. Tapi sekali lagi, bukan itu tujuan kami, tapi keseriusan dia dalam mencari ilmu. Kondisi itu masih bertahan, setidaknya kegemaran dia membaca yang patut diacungi jempol, ikut membantu dia me-maintain kemampuannya.

Bagaimana dengan otak kanannya?

Hm… ini anak memang anak bapaknya. Otak kanannya lebih banyak nganggur. Hampir semua hal dia analisis menggunakan otak kirinya. Ketika kami sama-sama menonton pertujukan sulap di TV, maka kalau yang lain berkomentar atau mengagumi pertunjukannya dari kacamata seni yang cekatan, mampu menghipnotis penonton sampai semua melongo, dll, maka anak ini akan berkomentar “apa sih yang bagus?”. Maka kami pun saling berpandangan untuk memakluminya sambil menghela nafas tertahan supaya tidak terlihat olehnya. Tapi sebaliknya dia akan sangat jeli melihat si pesulap mempermainkan jari tangannya sehingga pertunjukan itu sukses, untuk kemudian dia praktekkan.

Begitu juga kalau kami ke rumah adik kami, atau adik datang ke rumah kami, dimana suami adik kami juga pintar bermain sulap, maka itu sebuah kunjungan yang paling membahagiakannya dan dia tunggu-tunggu.

Mungkin begitu juga kebanyakan anak laki-laki, yang tertarik sulap bukan dari seninya tapi dari teknisnya.

Ketika kemarin sore, istri mengirim SMS bernada kecemasan, karena Eldyn belum sampai rumah ketika jarum jam menunjukkan angka 4, sedangkan biasanya jam 2 sudah klekaran di rumah untuk ngadem sampai sore menjelang ngabuburit dengan teman-teman main bolanya. Ternyata Eldyn harus mengikuti remedial (ulangan susulan karena nilai kurang) untuk bidang pelajaran Science, setelah selesai remedial dilanjut main ke warnet dengan teman-temannya. Malam harinya saya yang menemani dia menonton DVD mencoba mengungkap kembali kasus IQ dan kaitannya dengan remedial itu. Kembali saya tanamankan ke otak dia bahwa IQ tinggi hanya potensi, pemanfaatannya adalah dengan rajin mencari informasi dan berlatih. Orang berhasil bukan hanya karena IQ-nya tinggi tetapi harus didukung usaha keras. Karena kata Einstein (atau Edison ya?), jenius hanya menyumbang 10% keberhasilan, sementara 90%-nya adalah usaha.

Ah akhirnya momen itu datang juga untuk meyakinkan anak ini tentang makna IQ, kecerdasan dan hubungannya dengan keberhasilan usaha. Tapi ada satu hal juga yang harus menjadi bahan introspeksi saya, yaitu saya kurang mendampingi dia dalam pelajaran, karena merasa dia mampu, ternyata tetap orang tua harus memantau dan memastikan setiap anak mampu memahami pelajaran, baik pelajaran di sekolah maupun pelajaran hidup yang didapat dari lingkungannya.

Malam hari sebelum tidur dia masih ingin membahas bagaimana tokoh kartun detektif idolanya Conan berhasil mengungkap kasus pembunuhan rumit yang terjadi di atas kapal pesiar yang baru saja kami tonton. “Wis, bobo sik, sesuk dibahas”, “Janji lho Pa, sih penasaran hubungannya dengan kejadian 20 tahun yang lalu itu, kok bisa ya?”…. wah duh, ini bakal rumit…. mana pagi harinya harus bangun pagi-pagi untuk bantu nyiapin sahur.

Cikarang, Selasa 1 September 2009

Wassalam

1 Comment »

  1. Setuju Dik..
    Sdh banyak “pelajaran” di dunia ini yg bs jadi inspirasi..

    Boss nya Kebab Baba Rafi, ternyata bukan seorang Sarjana..
    Sudono Salim, menurut Riwayat – SR saja tidak selesai..
    Andre Wongso… dan masih banyak lagi…

    Sepanjang dimaknai, bhw objectivenya utk menjadi lebih dekat denganNYA.. Insya ALLOH, sinerginya makin positif..

    ALLOH tidak akan menuntun orang ke jalan Tol… Tapi Insya ALLOH dgn Sabar, Rakhman & RakhimNYa akan menghantarkan orang yg dikehendakiNYA.. menuju jalan yg merupakan Acces masuk jalan Tol…

    Comment by Noor Falich — 8 September 2009 @ 15:18


RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Theme: Shocking Blue Green. Blog at WordPress.com.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.